Pages

Selamat Jalan Ayah

Tuesday, February 17, 2015

Pilu. Itulah yang aku rasakan ketika dua minggu lalu (3 Februari 2015 pukul 01:53 WIB) aku mendapatkan sebuah sms dari keponakanku, “Bi, Kakek meninggal”. Seketika jantungku terasa berhenti beberapa detik, aku mematikan computer, melangkah gotai menuruni tangga, membangunkan tanteku. air mataku tumpah seketika dipelukan tanteku.
Malam itu aku terpaksa menginap di rumah seorang paman karena  ada sebuah tugas penting yang harus dikerjakan dan membutuhkan koneksi internet. Aku baru tiba di Kuningan sekitar pukul 8 pagi (2 Februari 2015). Ibuku menyambut kedatanganku, aku tau dibalik senyumnya tersimpan kesedihan yang ia tahan selama ini. Aku memasuki kamarku, disana terbaring tubuh yang begitu lemah, terbaring sakit, dengan nafas yang tersengal-sengal. Aku menyalami tbuh yang tinggal tersisa tulang dan kulit itu, menahan air mataku sebisa mungkin. Matanya sedikit melirik kearahku, lalu ia bersuara “cageur, neng?” (dalam bahasa Indonesia : “sehat, nak?”), aku menangguk pelan sembari tersenyum sebisanya.
Aku keluar dari kamar. Ibuku bercerita semua tantang keadaan ayahku. Sejak divonis kanker paru-paru 2 bulan lalu, aku bersiap untuk situasi terburuk sekalipun. Ternyata kondisi ayahku saat itu semakin menurun, tidak mau makan, minum, dan hanya tidur namun dengan mata terbuka. Seharian itu tak ada makanan ataupun obat yang masuk. Kakakku berusaha membujuknya untuk makan bubur, sedikit demi sedikit dengan bantuan air bubur encer itu ia makan. Giliranku memberinya minum, untuk terakir kalinya dalam hidupnya. Aku menatap wajahnya, tulang pipi yang menonjol, serta mata yang entah menerawang jauh kemana, saat itulah aku merasakan sesuatu yang ganjil dalam hatiku. Aku merasa jiwanya telah hilang.
Ibuku dengan sabar memberikan 4 butir obat, namun ayah tetap menolak. Dicoba hanya 2 butir pun tetap saja tak mau ia telan walaupun sudah banyak dibantu air. Aku tak kuasa melihatnya, akhirnya aku keluar kamar. Mengambil laptop dan mengerjakan tugas. Sesekali aku memasuki kamar sekedar untuk melihatnya, tak sampai 5 menit aku keluar lagi. Tidak tega, dan aku tak ingin ada air mata diadapannya meskipun ketika mandi air mata itu mengalir bersama guyuran air diwajahku.
Ketika aku hendak pergi ke rumah pamanku, beberapa anggota keluarga besarku datang menjenguk ayah. Aku mengerjakan tugas dengan pikiran yang entah kemana. Otakku membuat sejumlah kemungkinan. Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan momen-momen ketika aku bersamanya.
Saat aku berumur 4 tahun, aku merengek minta sekolah, ia kemudian membelikanku sebuah tas kecil yang sekarang masih aku simpan di gudang. Ketika aku mendapat ranking ia selalu bertanya hadiah apa yang aku mau. Dan sekarang aku menulis menggunakan salah satu hadiah darinya. Dia tidak pernah memanjakan aku, selalu mendidikku untuk berusaha mencapai sesuatu kemudian aku akan diberi reward.
Suatu ketika aku sedang tertidur, lalu aku terbangun mendengar suara ia datang. Aku berpura-pura tidur lagi. Ia memanggilku, aku diam saja. Ia memasuki kamarku, dan menggoyang-goyangkan wajahku, “Itu HP baru, hey bangun..bangun”. Ia selalu mengerti apa yang aku butuhkan.
Aku sangat suka buah-buahan, apalagi jeruk. Ketika sedang jalan-jalan dengannya, ia selalu menawariku untuk membeli jeruk. Ketika sepedaku rusak, ia selalu membetulkannya.
Separuh hidupnya dihabiskan untuk mengurus pemancingan. Hingga tidur disana dan jarang pulang. Walaupun dulu ia pernah bekerja di Jakarta, setelah pulang ke Kuningan, pemancingan selalu menjadi tempat favoritnya. Tak jarang aku mengetuk pintu saung di pemancingan hanya sekedar untuk meminta uang jajan sebelum berangkat sekolah.
Aku dan ayah memang tak sedekat aku dan ibuku. Momen bersamanya tak begitu banyak. Sejak ia sakit doaku kepada Tuhan adalah agar ayahku tetap sehat sehingga ia bisa ada ketika 2 momen terpentingku kelak. Disaat aku wisuda dan disaat aku menikah. Sayang, Tuhan memberikan jalan cerita yang berbeda dengan harapanku.
Aku tak sempat memberikan apa-apa padanya. Hanya nilai raport dan sertifikat lomba dari SD hingga SMA yang sempat aku tunjukkan padanya, walaupun terkadang menuai protes darinya ketika ada nilai kepala 7. Terkadang kesal dengan hal itu, tapi untungnya ia adalah ayah yang demokratis. Tidak pernah menuntut aku dalam hal apapun, hanya rambu kuning ketika aku sedikit menyimpang. Tak pernah memarahi dengan ucapan kasar ataupun perlakuan kasar secara fisik. Dia adalah laki-laki pertama yang aku sayangi.
Kepergian ayah bukan hanya kesedihanku, tapi seluruh keluarga besarku dan orang-orang yang pernah mengenalnya. Mungkin dulu ia tak selalu ada dimana aku berada, sekarang dimanapun aku berada ia bisa berada disampingku meski aku tak dapat melihat dan menyentuhnya. Apa yang ia ajarkan akan selalu aku ingat.
Good bye, Dad. I wish God will forgive all of your sins, and placed you in the right place, beside Him.
I’m still your lil’ girl. I promise I’ll do all my best efforts to make you proud of me. I love you so much.

I miss you…

#saveKPK

Saturday, February 07, 2015

http://news.detik.com/read/2015/02/06/144743/2825861/10/semoga-jokowi-tak-jadi-presiden-terburuk-dalam-pemberantasan-korupsi

SNMPTN 2015

Sunday, January 18, 2015

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tahun 2015 diluncurkan hari ini, Kamis  15 Januari 2015 di Gedung Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Jalan Jenderal Sudirman Pintu I Senayan. SNMPTN merupakan pola seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru program sarjana berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan nilai rapor dan portofolio akademik.

Dalam acara Peluncuran SNMPTN 2015 tersebut, dipaparkan mengenai pelaksanaan SNMPTN 2015 oleh Ketua SNMPTN 2015, Ketua MRPTN, dan Menteri Ristek, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Prof. Muhammad Nasir. Dalam acara tersebut juga diputarkan video tutorial cara pendaftaran SNMPTN 2015 (video tersebut bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=mIhuvwML8jk).

Berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 2 Tahun 2015 ditentukan bahwa penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2015 dapat dilakukan melalui tiga jalur, yaitu:

1.Jalur SNMPTN dengan kuota minimum 50% dari daya tampung;

2.Jalur SBMPTN dengan kuota minimum 30% dari daya tampung; dan

3.Jalur Mandiri yang diadakan masing-masing PTN dengan kuota maksimum 20% dari daya tampung.

Proses registrasi SNMPTN 2015 rencananya akan dibuka mulai tanggal 22 Januari 2015 mendatang. Pendaftaran dilakukan secara online pertama kali oleh Pihak Sekolah melalui situs resmi panitia http://pdss.snmptn.ac.id. Pada tahap ini, setiap Kepala Sekolah akan melakukan login untuk menginput data nilai siswa dari sekolahnya dan mengunduh password untuk siswa.

Proses pendaftaran akan dilanjutkan dengan verifikasi nilai dan pendaftaran ke Perguruan Tinggi oleh siswa. Siswa dapat login ke situs http://web.snmptn.ac.id mulai tanggal 13 Februari 2015 dengan memasukkan Nomor Induk Sekolah Nasional (NISN) dan password yang diberikan oleh Kepala Sekolah.  Selanjutnya siswa diminta untuk mengisi biodata, memilih program studi, mengunggah foto, hingga mencetak kartu peserta SNMPTN 2015 yang akan digunakan sebagai bukti saat proses pendaftaran ulang di masing-masing PTN yang dituju.

Sama halnya dengan SNMPTN tahun lalu, diperkirakan akan ada ratusan ribu, bahkan hingga jutaan siswa kelas XII SMA/SMK/MA/MAK dari seluruh penjuru Indonesia, termasuk siswa sekolah Indonesia di luar negeri, siap bersaing memperebutkan kursi yang tersebar di 63 PTN peserta SNMPTN.

Hati-hati dengan Ketentuan Pilihan Program Studi

Pada SNMPTN 2015, setiap siswa pendaftar SNMTPN dapat memilih sebanyak-banyaknya 2 PTN, dengan syarat salah satu PTN harus berada di provinsi yang sama dengan SMA asalnya. Namun jika hanya memilih 1 PTN, maka PTN yang dipilih bebas, dapat berada di provinsi manapun. Siswa kemudian dapat memilih sebanyak-banyaknya 3 Program Studi (Prodi), dengan ketentuan 1 PTN maksimal hanya 2 Prodi, dan urutan pilihan Prodi - PTN menyatakan prioritas pilihan.

Mengenai pemilihan prodi, ada hal mendasar yang sering dilupakan siswa, orang tua, dan sekolah. Setiap siswa kelas XII berhak menjadi peserta SNMPTN, namun tidak semua siswa memiliki peluang yang sama untuk lulus pada seleksi ini. Berbeda dengan Ujian Nasional yang bersifat mengevaluasi, dimana siswa yang mencapai nilai minimum berhak memperoleh kelulusan. Adapun SNMPTN merupakan proses seleksi yang bertujuan mencari siswa dengan nilai terbaik sesuai daya tampung pada prodi dan PTN. Maka tidak ada passing grade untuk masuk prodi - PTN tertentu, karena besar passing grade akan selalu berubah, tergantung besarnya nilai siswa pendaftar pada tahun berjalan.

Hal mendasar lain yang kerap dilupakan adalah mekanisme seleksi pada SNMPTN didasarkan pada prestasi akademik siswa selama mengikuti pembelajaran di SMA/MA/SMK/MAK. Beberapa parameter lain yang menjadi acuan, diantaranya adalah akreditasi sekolah, peringkat sekolah, prestasi lain siswa, rasio antara jumlah pendaftar dan yang diterima dari peserta SNMPTN sebelumnya, rerata IPK di PTN masing-masing dari alumni asal sekolah pendaftar, serta data pendukung lainnya.

Setiap siswa pendaftar sudah melewati fase tersebut dan memperoleh nilai rapor pada tiap semester. Dengan demikian, setiap siswa sudah dapat mengetahui peringkatnya dibandingkan pesaing di sekolah, sehingga dengan bijak dapat memilih prodi/jurusan yang peluang diterimanya lebih besar.

Siswa yang bijak tentu tidak memaksakan diri memilih prodi/jurusan pada PTN yang sama dengan siswa lain yang nilai rapor dan peringkatnya di sekolah lebih baik dari dirinya. Hal tersebut karena tidak mungkin mahasiswa baru di suatu prodi/jurusan di PTN seluruhnya berasal dari siswa sekolah yang sama.

Mekanisme Seleksi: Setiap Siswa Berhak Mendaftar, namun hanya Siswa Terbaik yang akan Diterima!

Mekanisme seleksi dilakukan 2 tahap. Pada tahap pertama, siswa diseleksi di PTN pilihan pertama berdasarkan urutan pilihan prodi. Apabila dinyatakan tidak lulus pada PTN pilihan pertama, maka akan diseleksi di PTN pilihan kedua berdasarkan ketersediaan sisa daya tampung.

Pertanyaannya, apakah universitas besar dan favorit seperti UI, ITB,UPI,UNPAD UGM, dan UNAIR mau dijadikan sebagai pilihan PTN kedua? Biasanya jawaban diplomatis mereka bukannya tidak mau. Masalahnya daya tampung yang tersedia sudah penuh terisi oleh siswa pendaftar yang memilih UI, ITB,UPI,UNPAD, UGM, dan UNAIR pada PTN pilihan pertama.

Jadi tips bagi adik-adik yang akan mengikuti SNMPTN 2015, tidak perlu terburu-buru mendaftar. Cari terlebih dahulu informasi mengenai peringkat kamu di sekolah dan pilihan prodi/jurusan teman-teman di sekolah kamu yang mempucnyai nilai rapor dan peringkat yang lebih baik, hindari pilihan yang sama dengan mereka. Cari juga info berapa daya tampung prodi/jurusan di tiap PTN, berapa peminat tahun lalu, sehingga kamu dapat mengetahui tingkat keketatannya. Jika memungkinkan, cari juga berapa banyak kakak kelas kamu yang diterima melalui SNMPTN 2014. Cari infonya sampai detail, berapa yang diterima di Prodi/jurusan yang kamu minati di tiap-tiap PTN. Makin banyak alumni sekolah kamu yang diterima tahun lalu, makin besar peluang kamu untuk diterima juga. Kemudian, meskipun kamu punya kesempatan memilih 2 PTN, maksimalkan pilihan di PTN pertama.

Timbang semuanya dengan baik dan bijak. Ingat bahwa setiap siswa berhak mendaftar, namun hanya siswa terbaik yang akan diterima! Semoga bermanfaat.

Perampok Berdasi dan Eksekusi Mati

Saturday, January 17, 2015

Fenomena eksekusi mati jadi berita utama di hampir seluruh siaran berita tanah air di bulan Januari ini setelah digemparkan berita hilangnya pesawat AirAsia QZ8501. 6 orang tersangka yang membawa sejumlah narkoba, 5 diantaranya adalah WNA. Hidup mereka tinggal beberapa jam lagi. Jika saja mereka tidak pernah menyentuh barang haram tersebut mungkin mereka dapat hidup jauh lebih lama. Sayang, mereka terlalu nekat. Nekat membawa amunisi pembunuh masa depan generasi muda. Narkoba adalah salah satu faktor penghancur masa depan generasi muda suatu bangsa. Bayangkan saja jika satu bandar memiliki 5 anak buah (pengedar). 1 pengedar punya 10 pelanggan tetap, jadi 1 bandar punya  50 pelanggan. Artinya 50 orang sudah menjadi korban dan kehancuran hidupnya pun akan dimulai. Bukan hanya itu, dari 50 orang itu jika mereka mengajak masing-masing 2 orang untuk memakai narkoba maka jumlahnya akan menjadi 150 orang. Dan demikian seterusnya.
Semakin lama akan semakin menjamur, merambah ke setiap insan muda yang selalu ingin mencoba hal-hal baru.  Maka bukanlah hal yang salah jika para bandar dieksekusi mati.
Bukan hanya bagi para bandar narkoba, eksekusi mati juga berlaku bagi para teroris yang sudah jelas-jelas membahayakan hajat hidup orang banyak. Pengebom tragedi Bom Bali II misalnya, wajar jika ia dieksekusi mati. Dan juga para teroris lain juga layak dieksekusi mati, walaupun hal ini menimbulkan banyak kontra. Para oposisi mempermasalahkan masalah kemanusiaan, HAM, dan juga konstitusi yanh menjamin hak hidup warga negara. Coba lihat kembali apa yang mereka lakukan. Itu melanggar HAM dan sangat tidak manusiawi.
Lalu bagaimana dengan perampok berdasi? Haruskah mereka juga dihukum mati seperti bandar narkoba dan para teroris?
Menggondol uang ratusan, milyaran, bahkan trilyunan rupiah, bukankah itu juga tindakan yang merugikan banyak pihak? Apalagi jika uang itu seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat seperti untuk pembangunan fasilitas kesehatan umum, pendidikan, infrastruktur, dan apalagi jika seharusnya digunakan untuk dana bantuan rakyat miskin. Betapa jahatnya dan serakahnya mereka. Haruskah tikus-tikus ini dieksekusi mati?
Jangankan eksekusi mati, dipenjara pun masih diberi fasilitas ekslusif. Dipenjara pun masih berani main belakang. Gonjang ganjing politik, saling suap menyuap sampai ke lembaga hukum tertinggi. Lalu, pada siapa kami harus percaya? Jika penegak hukumnya pun tidak bisa menegakkan diri sendiri. Malangnya ibu pertiwi.

SELEKSI NASIONAL BEASTUDI ETOS 2015

Tuesday, January 06, 2015

Tolong bantu share buat anak pintar yg gak mampu kuliah

SELEKSI NASIONAL BEASTUDI ETOS 2015

Untuk seluruh siswa/i SMA/Sederajat se-Indonesia

Beastudi Etos ada di 16 PTN.
UNSIYAH, USU, UNIV ANDALAS, UIN Jkt, UI, IPB, ITB, UNPAD, UNDIP, UNAIR, ITS, UNIBRAW, UGM, UNMUL, UNHAS, dan UNPATI

Fasilitas Beasiswa :
1. Bantuan biaya pendidikan selama 8 semester
2. Uang Saku
3. Asrama Mahasiswa selama 3 tahun
4. Pembinaan selama 4 tahun (tahun ke 4 pembinaan persiapan pasca Kampus)
5. Support prestasi dalam dan luar negeri
6. Bantuan biaya penelitian skripsi
7. Pembuatan pasport

Persyaratan :
1. Surat Keterangan Tidak Mampu
2. Slip Gaji/ Surat Keterangan Penghasilan Orangtua dari Wali Nagari/ Ketua RT/RW / Ketua Pengurus Mesjid setempat dengan Cap Stempel
3. Fotocopy Rapor Semester 1-5 atau Ijazah bagi yang sudah lulus SMA/sederajat
4. KTP/ Kartu Identitas
5. Fotocopy Kartu Keluarga
6. Pas Photo terbaru warna 3x4 2 buah
7. Fotocopy Rekening Listrik bulan terakhir
8. Foto Rumah Tampak Keseluruhan (Ruang tamu, ruang tidur, dapur, kamar mandi, halaman depan dan belakang)
9. Mengisi Formulir Pendaftaran, download di www.beastudiindonesia.net / ambil ke Sekretariat Beastudi Etos terdekat
10. Tulisan tentang perjalanan hidup (minimal 2 halaman A4)

Pendaftaran juga bisa secara online melalui website
www.bit.ly/SELEKSI-ETOS

Pendaftaran mulai 1 Januari - 28 Februari 2015

Asrama beastudi etos Medan. Jakarta. Malang. Semarang. Jogja. Surabaya. Samarinda. Makassar. Ambon. Padang. Aceh. Bandung. Bogor.

Siapa tau ada saudara/teman/tetangga Anda yang membutuhkan.

Kehadiranmu

Friday, January 02, 2015

Berjuta asa kutebar diluasnya jagad raya, setinggi bintang, seindah pelangi.
Menantikan datangnya arjuna. Entah siapa.
Bagaikan benang kusut, hatiku ketika itu.
Tak perduli dunia, hanya fokus pada satu asa yang tiada akhir. Asa yang seharusnya tak pernah ada.
Datang begitu sederhana, menawarkan cinta apa adanya namun luar biasa.
Mencairkan bongkahan hatiku yang beku.
Membuatku merasakan kenyamanan dalam potret lugumu.
Dalam keheningan aku selalu berdoa kelak aku menemukan sebuah kedamaian dan kenyamanan dari seorang adam.
Kaummu terkadang banyak menyakiti, merayu dengan sejuta kata-kata manis, sarat akan janji dan romantisme.
Tapi kamu tidak.
Tampil apa adanya, sangat apa adanya.
Berbeda denganku yang ingin selalu terlihat sempurna.
Tidak ada romantisme yang selalu aku idamkan, tapi ada cinta yang jauh lebih besar dan sangat berarti yang kurasakan.
Ada hati yang perlahan bergejolak, meruntuhkan khayalanku dan membangun mimpi-mimpi yang akan kita wujudkan bersama.
Kehadiran yang awalnya tak diharapkan, namun aku pertahankan.
Kehadiran yang tiba-tiba, bukan karena rasa iba, tapi karena Tuhan berkata 'waktunya telah tiba'.
Tak ada yang tahu hingga kapan, dan kemana semua ini akan berakhir.
Terima kasih untuk segala perhatian, kasih sayang, pengorbanan, kesetiaan, kesederhanaan, dan terlebih pelajaran hidup yang sama-sama kita dapatkan selama ini.
Bukan wajahmu yang membuatku jatuh hati, bukan isi dompet atau kendaraan apa yang kamu pakai, tapi apa yang kamu lakukan dan ketulusanmu selama ini yang membuatku bertahan dan ingin terus seperti ini hingga kita bertemu dihadapan altar suci nanti. Semoga Tuhan merestui.

Mawar Putih pun Berduri Tajam

Friday, November 14, 2014

Udara dingin mengusap lembut tubuhku yang tengah terbaring di sofa ruang keluarga. Aku sedikit terusik kemudian meringkuk memeluk lututku, berusaha menghangatkan diri. Namun, suara gemericik hujan bersautan dengan suara petir sedikit banyak mengganggu hibernasiku. Memuaskan diri dengan tidur seharian setelah satu minggu begadang demi tugas-tugas yang rasanya tidak pernah berkurang, atau malah terasa semakin bertambah.
Aku mengulet, melihat jam dinding. Jam 3 sore. 12 jam aku tertidur, pantas saja aku merasa sangat lapar hingga perutku terasa perih. Aku bangun, duduk menghadap kearah jendela. Aku menguap sambil melihat tetesan air yang turun dari si hitam cumulonimbus di atas langit sana. Melihat ke sekeliling halaman depan rumah. Berjejer bunga mawar tersiram air hujan. Aku pandangi satu per satu mawar itu, walaupun sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan halaman depan rumah yang dirawat sangat apik oleh ibuku.
Tiba-tiba ada satu pemandangan yang tertangkap kedua mataku, dan langsung masuk kedalam otakku, lalu seketika terjun bebas kedalam hatiku. Mawar putih. Satu-satunya diantara deretan mawar merah dan pink, tertanam begitu indah dengan kelopak putih jernihnya. Aku bukan pujangga yang bisa menuliskan kata-kata romantis, tapi mungkin itulah Anna. Ditengah deretan mantan-mantanku, dialah yang paling berbeda. Hatiku mulai bereaksi, memori otakku kembali membuka album usang tempat aku menyimpan segala kenanganku dengannya.
Senyumnya, tawanya, tingkah lucunya, marahnya, delik matanya aku masih sangat megingatnya. Bahkan wangi khas tubuhnya pun masih lekat dalam ingatanku. Aku ingat bagaimana ia begitu marah ketika aku selingkuh. Saat itu aku baru menyadari betapa bodohnya diriku. Mungkin tangisannya adalah klimaks sakit hatinya. Ia tidak banyak bicara, diam membungkam lalu pergi. Ingin aku kembali pada saat-saat itu, mencoba meredam tangisnya dan mencegahnya pergi. Namun, rasanya tidak pantas lagi aku menghampirinya. Walau kini ia sudah memaafkanku, aku tahu di dalam hatinya luka itu masih menganga.
Aku rindu.
Jika aku seperti Nobita yang memiliki Doraemon, mungkin saja aku bisa memintanya mengeluarkan mesin waktunya. Kembali ke 2 tahun lalu. Aku ingin memperbaikinya, atau malah 3 tahun lalu memulai semuanya dari awal seperti serial Proposal Daisakusen. Jika aku diberi kesempatan itu aku akan menyayangi Anna sepenuh hati dan tidak akan membuat air matanya menetes setitikpun. Bahkan aku rela menjadi badut yang senantiasa mengukirkan senyum di wajah putihnya. Memulai dengan indah, terus berputar seperti bumi yang tak berujung.
Salahkah?
Terlambat. Hanya itu alasnnya. Aku terlambat untuk memperbaiki semuanya,
Tiba-tiba dadaku terasa nyeri, sesak, pelupuk mataku terasa panas. Mataku berkaca-kaca. Terlalu sakit untuk mengingat peristiwa ini. Kanker pun rasanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan harus kehilangan orang yang paing disayangi. Dan kepergiannya adalah karena ulahku.
Sore itu ketika kami bertengkar hebat, diluar sedang hujan deras. Petir menyambar-nyambar mengiringi pertengkaran kami. Wajahnya memerah, sorot matanya begitu tajam diiringi derai air mata yang terus keluar dari mata cokelatnya. Aku menunduk, sesekali aku mencoba berargumen, namun aku memang salah. Aku mengaku salah. Aku memang bodoh. 1 tahun kebersamaanku dengannya sering kali diwarnai permainanku. Perselingkuhan yang terus menerus aku lakukan dengan beberapa gadis lainnya membuat Anna merasakan sakit hati yang amat dalam. Ia tahu, namun ia hanya diam, dan bersabar. Seperti thermometer yang dipanaskan, 2 tahun lalu adalah klimaks semua kekecewaannya.
Ia membaca semua chat mesra bbm ku dengan seorang gadis yang sangat asing baginya. Setelah ia meluapkan emosinya, ia memaksakan diri menerobos hujan lebat. Aku tak bisa menahanya. Aku membiarkannya pergi karena kupikir ia butuh waktu untuk menenangkan diri, setelah ia tenang baru aku akan berbicara baik-baik kepadannya, mengakui semuanya dan meminta maaf. Saat itu aku hanya membutuhkan maafnya, jika ia tetap tidak ingin meneruskan hubungan ini aku bisa menerimanya. Karena kala itu aku pikir aku bisa mendapatkan gadis lain yang lebih baik dan lebih cantik darinya. Nyatanya hipotesaku salah besar. Aku masih saja merindukannya.
Tidak sampai setengah jam Anna pergi, ia meneleponku.
“Hallo benar ini dengan mas Aldo?”
“i-i-iyaaa” aku kaget ketika bukan Anna yang bicara dibalik telepon.
“Mas Aldo, kami dari pihak RS.Mitra Keluarga Depok ingin memberitahukan bahwa teman anda, saudari Anna sedang kritis dan harus dilakukan tindakan dengan segera. Kami membutuhkan kehadiran Anda, karena beberapa kali kami tidak bisa menghubungi keluarganya….”
“baik! Saya segera kesana”
Tanpa pikir panjang lagi aku mengambil kunci motor dan segera melesat ke rumah sakit. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Anna. Jantung ini rasanya berhenti berdetak ketika mendengar kabar itu. Aku memacu kuda besiku, menerobos hujan yang tak kunjung berhenti. Aku takut petir, namun aku lebih takut kehilangannya.
Aku sampai di rumah sakit. Anna masih di UGD, tubuhnya bersimbah darah. Kepalanya terus menerus mengeluarkan darah. Aku merasakan seluruh tubuhku melemah, aku tidak bisa membiarkannya seperti ini. Aku tidak ingin kehilangannya. Seorang suster menyodorkanku sebuah dokumen persetujuan tindakan operasi. Tanpa pikir panjang aku menandatanganinya.
Tak lama Anna langsung dibawa ke ruang operasi. Nafasku tidak teratur, kepalaku terasa sakit seperti dihantam bola beton. Aku duduk di depan ruang operasi. Aku masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan Anna seperti itu? Bisakah Anna diselamatkan? Tuhan tolong aku.
“Kamu teman gadis tadi, nak?” tiba-tiba suara seorang lelaki mengagetkanku.
Aku hanya mengangguk pelan. Kepalaku terus menunduk, aku menyembunyikan mataku yang sudah sejak tadi dibasahi air mata.
“Tadi dia tertabrak mobil waktu mau nyebrang, nak. Mobilnya kabur gak mau tanggung jawab. Semoga bisa diselamatkan ya, nak. Saya pamit dulu.” Katanya
Sesak dada ini mendengar cerita itu. Anna, sorry. All caused by me. I’m foolish!!!!
Pria itu bergerak menjauhiku, berjalan memunggungiku.
“Terima kasih, Pak.” Kataku lirih
Ia menoleh dan tersenyum. Aku berusaha membalas senyumnya sebisa mungkin.
Tak lama keluarga Anna datang bersamaan dengan keluarnya dokter dari ruang operasi. Kami semua menanti kabar tentang kondisi Anna. Mama Anna tak henti-hentinya menangis.
“Anna kehabisan banyak darah, kami membutuhkan darah lagi karena stok darah AB sangat sedikit. Siapa diantara kalian yang golongan darahnya AB?” kata dokter.
Aku tidak pernah mendonorkan darah, dengan alasan takut dengan jarumnya yang sangat besar itu. Namun kali ini yang membutuhkan adalah orang yang sangat aku cintai. Setelah melewati pemeriksaan kesehatan aku mulai mendonorkan darahku. Besar harapanku saat itu Anna bisa tertolong.
Beberapa jam setelah aku mendonorkan darah, dokter kembali keluar ruangan dan memberitahukan bahwa Anna masih koma dan ia tidak bisa memprediksikan kapan Anna akan siuman.
Aku dan keluarganya sangat terpukul saat itu.
Tidak sampai satu minggu Anna di rumah sakit, keluarganya membawa Anna ke rumah sakit di Jerman untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. Saat itu aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya.
Setelah enam bulan perawatan Anna sembuh. Betapa senangnya ketika mamanya memberitahukan kabar itu. Ingin segera aku menyusulnya kesana, sebelum satu e-mail ini sampai:
Hai, apa kabar?
Aku sudah sembuh dan sehat kembali disini. Do, aku sudah memaafkan kamu. Semoga kamu bisa menjadi pria yang bertanggungjawab atas komitmen yang kamu bangun. Aku sudah bilang sama mama papa untuk tinggal disini saja. Rasanya terlalu sakit untuk pulang ke Indonesia. Aku sedang dekat dengan seorang dokter yang menanganiku disini. Terima kasih untuk pelajaran berharga ini. Aku harap kamu mengerti.
Belakangan aku mendengar dari teman-temannya bahwa ia telah menikah dengan dokter itu, dan juga terkadang aku masih sering mengikuti aktifitasnya lewat sosial media.
Anna tidak salah, itu jalan hidupnya. Dan jika aku dulu tidak begitu, mungkin jadinya tidak seperti ini. Sesal memang selalu datang di akhir. Namun, ada setitik rasa bahagia ketika mengingat bahwa didalam tubuhnya mengalir darahku juga.
Aku yang membuatnya celaka, tapi sedikitnya aku menyelamatkan nyawanya, walaupun luka hatinyanya tak bisa aku sembuhkan.

Mawar putih, itulah kamu, Anna. Polos, elegan, sederhana namun cantik, dan sangat besar hati.Aku benar-benar mengaguminya.
Aku menutup album usang itu. Bangkit berdiri, mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya. Menghisapnya dalam-dalam, mengeluarkan asapnya pelan-pelan, seperti rasa sakit dan kerinduan ini, aku ingin melepaskannya perlahan-lahan bersama kepulan asap tembakau ini.
***


Aku Bukan Gitarmu

Tuesday, November 04, 2014

Tanganmu melingkar memeluk gitar cokelat tua itu
Jari-jari itu menyentuh senar-senar yang kian berkarat
Kau petik lihai satu demi satu dawai gitarmu
Nada-nada  mengalun indah dari kotak resonansi itu
Suara merdumu menyatu menjadi sebuah harmoni indah di telingaku
Kau tampak manis ketika itu
Sayang aku hanya bisa memandangimu dari kejauhan
Sejujurnya aku ingin ada disana, disampingmu
ditepi danau nan tenang, bermandikan cahaya mentari sore yang hangat
Namun aku takut, aku takut aku terjatuh lagi

Aku masih mengagumimu, senyummu, tawamu, dan semua tingkah lucumu
Aku masih merindukan hangatnya pelukmu, tatapan matamu, dan
aku....
aku masih mencintaimu seperti dulu
Aku masih sama seperti yang dulu
Namun aku bukanlah gitarmu
Aku bukan gitar yang bisa kau mainkan sesuka hati
lalu kau campakkan ketika kau sudah puas
Kau selalu datang dan pergi sesuka hatimu
Aku kesal kau begitu
aku ingin kau berubah
tapi apa daya, aku memang lemah
aku tak kuasa untuk menolakmu
aku selalu membukakan pintu saat kau datang
saat kau pergi, aku hanya bisa memandangimu dari jauh

Kau adalah nama yang selalu kusebut dalam doaku
Ku memohon pada-Nya agar kau selalu sehat dan bahagia
walau tak bersamaku
Selebihnya aku ingin kau sadar
akan kehadiranku disampingmu
Aku bukan gitarmu
Aku ingin menjadi orang yang selalu ada disampingmu
saat kau berlagu sedih maupun bahagia


Long Distance Relationship, Bukan Pemisah Aku dan Dirinya

Sunday, November 02, 2014

Seperti dalam dongeng, setiap gadis memiliki impian bertemu dengan seorang pangeran tampan atau ksatria tangguh dalam hidupnya. Diawali dengan pertemuan dramatis, diselingi konflik nan ironis, kemudian diakhiri akhir yang romantis. Sangat klasik. Namun aku pun pernah bermimpi seperti itu. Memiliki pasangan hidup setampan Ken atau dalam dunia nyata seperti Bradley Cooper, seseksi Adam Levine, atau sekeren Taylor Lutner. Bukan hal yang salah selagi mimpi itu dibarengi usaha dan selalu sadar akan realita yang ada.
Mencari yang sempurna, sempurna, dan sempurna. Habislah waktu kita. Nobody perfect, but let's look for someone out there who offer her/his simplicity to complete you. It's perfect life, guys.
Sekitar satu tahun lalu aku bertemu seorang pria (4 years older). Sebenarnya jauh sebelumnya kami sudah saling berkomunikasi lewat jejaring sosial, facebook. Kejadian itu terulang lagi, singkat cerita kami bertukar no HP, dan saling berkirim pesan. Awalnya biasa saja, sama seperti teman-teman lainnya. Ternyata kami punya satu kesamaan, yaitu sama-sama penggemar salah satu klub sepakbola raksasa Spanyol, Barcelona. Modus selanjutnya adalah ia mengirim jersey klub kesayanganku ke rumah dengan nama (-DIANA- if you remember) yang salah (untung aja bukan alamat palsu wkwkwk). Sebelumnya aku tidak pernah tau dia rupanya seperti apa, kesalnya dia tau aku. Hingga suatu hari seorang teman mengetahui kedekatan kami, dan menyuruhnya datang ke tempatku berada saat itu. 
Canggung. Itulah perasaan pertama ketika sosok pria seksi ini muncul dihadapanku (cieee disebut seksi :p). Kemudian kami pun terbawa dalam obrolan-obrolan ringan ditengah kedua temanku yang lainnya (ceritanya double date). Dia mengantarku pulang. Dan sejak saat itulah dia melancarkan manuver-manuvernya untuk menembus pertahananku. Bukan pertahanan, tapi kesia-siaan yang dipertahankan.
Setelah proses yang cukup panjang akhrinya, 2 Novermber 2013 kami meresmikan hubungan kami.
Satu bulan pertama, percakapan mesra nan manja mengawali minggu-minggu pertama kami pacaran. 
Bulan kedua, untuk pertama kalinya aku diperkenalkan pada keluarga besarnya. dan itu gugupnya bukan main. Ada rasa takut tidak disukai, atau parahnya tidak direstui, tapi syukurlah kami bisa sampai sekarang karena restu keluarga pula.
Saat aku ulang tahun tanpa diduga-duga ia datang tengah malam kerumahku bersama teman-teman kami. Ketika aku baru saja ingin tidur, tiba-tiba mereka muncul dari dapur sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Senengnya pake banget apalagi dekorasi kuenya Barcelona. (so sweet and once again thank you for you all)
Akhir tahun 2013, kami habiskan semalam suntuk dirumahku. Menikmati detik-detik pergantian tahun bersama keluargaku. Itu pertama kalinya aku membawa pria ke rumah saat malam tahun baru. 
Bulan ketiga, mulai ada pertengkaran-pertengkaran kecil. Ia pindah ke Bandung untuk mencari pekerjaan. Hal itu menjadi awal kami menjadi pejuang jarak dan waktu. Tapi dua minggu sekali dia masih pulang ke Kuningan. 
Bulan keempat, aku pergi ke Bandung. Tujuannya 2 in 1. Ada acara dengan komunitasku dan sekaligus bertemu dengannya. Rasanya lega ketika bertemu lagi dengan dia. Senangnya bukan main, ketika melihat sosoknya ada disampingku.
Bulan kelima, aku mulai sibuk mempersiapkan ujian nasional. Dia sangat pengertian, walau kadang terselip pertengkaran karena hal-hal kecil tapi itulah penyedapnya.
Bulan keenam, ulang tahunnya bertepatan dengan peringatan hari jadi kami. Awalnya aku mau mengirimkan kue kering buatanku ke Bandung, tapi secara mendadak ia pulang ke Kuningan. Hampir ketahuan tapi untungnya masih berhasil. Surprise party sederhana, sekaligus membangunkan kebo bangun dari tidurnya hahaha. 
Bulan ketujuh, ia kembali ke Bandung.Aku lulus, Ia mulai bekerja, waktu kami untuk berkomunikasi semakin terkikis. Tapi SMS dan telepon masih jadi andalan.
Bulan kedelapan, satu bulan kami tidak bertemu namun akhirnya bertemu dengan hitungan 8 jam saja. Saat-saat terakhir aku menangis dipelukannya. Saat itu aku merasa tidak ingin pergi lagi. Ingin rasanya tinggal terus disampingnya. Namun, itu tidak memungkinkan. Aku kuliah di tempat yang jauh dengannya. Resiko long distance relationship yang sebenarnya pun harus kami terima dengan ikhlas. 
Bulan-bulan seterusnya hingga bulan yang keduabelas hanya tersisa SMS dan telepon. 
Perbedaan-perbedaan prinsip mulai muncul, namun kembali pada bagaimana kami membangun cerita hidup ini. Banyak orang meremehkan LDR, seolah tak punya harapan. Bau-bau perselingkuhan memang selalu mendekati mereka yang menjalin hubungan jarak jauh. Banyak kesempatan, tapi ingatlah bagaimana susahnya kita membangun dan mempertahankan hubungan yang sudah ada. 
Aku dan dia tidak sama. Sedikit banyak perbedaan itu menjadi akar munculnya pertengkaran.
Dia bukan orang tertampan, terpintar, teromantis, terkaya, dan ter ter selanjutnya. Tapi dia adalah orang yang hebat yang bisa meluluhkan hatiku. Orang yang bisa membuat aku bangkit. Orang yang membuatkanku cermin untuk selalu aku berkaca pada diri sendiri. Orang yang bisa meyakinkan hatiku. Dia tidak selalu mengerti aku, karena dia tau saat dimana aku harus mengerti dirinya.
Aku memulainya dengan rasa nyaman, bukan dengan jatuh cinta. Karena jatuh cinta tidak menjamin aku dapat merasakan kenyamanan ini.
Aku meneruskan ini bukan karena keinginan, tapi karena aku membutuhkannya dan karena aku telah berani memulainya.
Jarak dan waktu bukanlah penghalang ketika kita berani memulai. Komunikasi, kepercayaan, dan saling mengerti adalah kuncinya. Tapi yang utama dari semuanya adalah sejauh mana niat kita untuk mempertahankan apa yang telah kita mulai. Karena mengakhiri itu jauh lebih mudah daripada kita memulai sesuatu yang baru.

Sumpah Pemuda, Sebuah Janji Tanpa Realisasi

Thursday, October 30, 2014


28 Oktober 2014 kemarin adalah peringatan Sumpah Pemuda yang ke-86 tahun. Sebuah sumpah yang membangkitkan semangat para pemuda di masa penjajahan dulu. Suatu titik balik kebangkitan bangsa Indonesia ditengah kekejaman kolonialisme Belanda. Sebuah sumpah yang mempersatukan bangsa kita, perjuangan kedaerahan berubah menjadi perjuangan nasional. Semua berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya demi sebuah kemerdekaan.
Dirumuskan begitu baiknya oleh para pelopor kala itu. 
Intinya adalah satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa..
Kini kita memperingati tanggal 28 Oktober sebagai hari Sumpah Pemuda. Namun, nampaknya hanya sebuah peringatan biasa tanpa sebuah realisasi. Tidak dimaknai dengan baik. 
Dari ketiga isi Sumpah Pemuda terdapat sebuah kata yang sama, yakni SATU. 
Apakah sekarang kita sudah SATU TANAH AIR? BANGSA dan BAHASA?
Kita tinggal di satu negara yang sama, terbentang dari Sabang hingga Merauke, 726 bahasa daerah dipersatukan dengan satu bahasa, bahasa Indonesia. Namun sebenarnya bukan itu saja, ada makna yang lebih dalam yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. kata SATU tanah air, bangsa, dan bahasa bermakna kita sebagai bangsa Indonesia yang tinggal di negara yang sama dengan satu bahasa pemersatu yang sama harus mampu bersatu untuk kesatuan dan kemajuan bangsa dan negara kita. Bukankah persatuan ini ditegaskan lagi dalam sila ke-3 Pancasila, "Persatuan Indonesia"?
Sekarang kita lihat carut marut politik dan ketegangan di Senayan. DPR yang seharusnya menjadi "perwakilan rakyat" hanya jadi "perwakilan partai" atau "perwakilan golongan". Bukan hanya itu, DPR yang seharusnya bersatu untuk menyuarakan suara rakyat, malah terpecah belah karena perbedaan kepentingan yang bersifat "golongan". Berpenampilan terhormat namun bermental liar, bertingkah seperti binatang yang tak tahu tata krama. Bertingkah seolah "saya paling benar". Berbagai intrik menyelimuti wajah-wajah baru parlemen. Bak anjing dan kucing yang tak pernah akur, begitulah KMP dan KIH. Melupakan amanah yang mereka pikul. 
Jika parlemennya tidak bersatu, bagaimana akan tercipta Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera? 
Egoisme harus dihilangkan. Api persaingan dan ketegangan harus diredakan, Ini bukan dunia dongeng yang akan muncul seorang superhero yang akan menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Kesadaran dari setiap pribadi akan kepentingan bangsa harus dimunculkan. Bukankah Bapak/Ibu adalah insan beriman? Bukankah Anda berpendidikan? 
Hancur bangsa ini jika kita terpecah belah. 
Mari kita bersatu, satukan visi bahwa kedepannya Indonesia harus menjadi negara yang lebih baik dari sekarang. Negara dan bangsa yang siap menghadapi tantangan global, menjadi Zambrud Khatulistiwa, melebarkan sayap-sayap Garuda keseluruh penjuru dunia. Bukankah lebih indah bila hidup harmonis dan damai?

Bertahan, Haruskah?

Wednesday, October 22, 2014

Aku..
Berdiri diantara mereka yang mengumbar sejuta kata cinta..
Ditengah mereka yang berpeluk mersra,.
Kuperhatikan mereka satu per satu, rona bahagia terukir di wajah mereka, tawa bahagia membahana di setiap celotehnya.
Ada sekelumit rasa yang aku tak bisa jelaskan.
Aku melihat disebrang sana, ada mereka yang beradu urat nadi, wajah memerah bak besi yang dipanaskan,
yang lain muram, menunduk, menangis. ada kesal, sedih, kecewa, marah, dan sesal mengelilingi mereka.
Dua situasi yang berbeda.
Dan aku?
Aku bagaikan sampan yang terombang-ambing ombak di laut lepas.
Tak tentu arah..
Aku berdiri diatas ketidakpastian yang kau ciptakan..
Menunggu kau datang dengan senyum dan tatapan penuh arti itu kembali. Salahkah?
Aku selalu menginginkanmu, Aku membutuhkanmu.
lalu, kau?
Kau hanya membutuhkanku, tapi tak menginginkanku.
Kau datang saat kau membutuhkanku, lalu pergi begitu saja. Begitulah seterusnya.
Aku lelah..lelah mengartikan semua sikapmu, menunggumu,
terlebih melihatmu bersama orang lain.
Aku hendak pergi. Namun kau menghampiri.
Aku mencoba terus bertahan, memberikan apapun yang terbaik untukmu,
Namun setelah itu kau pergi lagi.
Aku terjebak dalam sebuah dilema.
Kau tak pernah berkata cinta, namun perilakumu, perhatianmu seolah memberiku harapan.
Apa aku salah mengartikan semua ini?
Apa selama ini aku hanya membuang waktuku?
Haruskah aku lenyap dari kehidupanmu?
Bisakah aku menghindar dari bayang-bayang dirimu?
Bisakah aku berhenti memperhatikanmu, memikirkanmu, dan menangisimu?
Haruskah aku beranjak pergi dari tempat dimana aku bertahan selama ini?


(terinspirasi dari seorang teman)

MAHASISWA: Satu Bulan Pertamaku

Akhirnya malem ini gue bisa nulis lagi, setelah sekian lama blog ini udah hampir berdebu kali ya -____-
Kali ini gue gak akan nulis kritik, cerpen, atau artikel apapun. gue cuma pengen curhat tentang hal-hal apa yang terjadi selama kurang lebih satu bulan gue jadi MAHAsiswi.
Gak penting dan gak ada benefits nya juga buat kalian, blogger. But, I want to write my 'lil experience here. Just read it...

Kebetulan (sebenernya gak ada yang kebetulan, semuanya udah direncanakan Tuhan) gue dapet beasiswa S1 di salah satu universitas swasta di Jabodetabek (gue gak yakin nyebutin letak pastinya universitas gue ini soalnya tersebar di seluruh wilayah pariperal Jakarta). Terhitung sejak Agustus tahun ini gue pindah ke Depok, dan mulai kuliah akhir bulan September. Sebelumnnya ada matrikulasi (pengenalan matkul) selama 3 minggu. Dan ketika saat itu gue belum terlalu sibuk, masih sempet jalan2 ke rumah sodara gue di Tangerang, Bekasi, dan Jakarta. 
Setelah masuk bulan September, dan ketika masuk hari pertama gue kuliah jadi mahasiswanya itu beneran TERASA. Ada sekitar 10 lokasi kampus, dan gue kebagian kuliah di kampus F. Lokasinya itu....gak ada di peta. lo mau cari di google maps pun gak akan ada. Terpencil? Bisa dibilang begitu. Dari jalan raya masuk gang, dan kalo lo jalan sari gang-kampus bisa memakan waktu 10-15 menit (kalo jalannya cepet). Bayangkan gimana jauhnya, dan awal-awal gue kuliah itu jalan kaki. Oke itu perjuangan pertama sebagai insan yang haus akan ilmu (sedikit hiperbola boleh kali yak)
Setelah masuk kampus gue harus olahraga naik tangga sampai lantai tiga, ya itung-itung usaha buat kurus deh. Masuk ke kelas yang dipenuhi berbagai manusia unik dari barat Indonesia sampai bagian timur. Dari yang pendiem sampe yang nyeleneh. Macem-macem karakter, dan mereka semua rata-rata menyenangkan dan bisa buat gue ketawa tiap hari. 
Bukan cuma temen-temen yang sikapnya beragam, dosennya pun begitu. Mulai dari yang garing bikin ngantuk, galak/jutek setengah mati, sampe yang bisa diajak ketawa bareng. Perbedaan itu memang indah. coba kalo semuanya sama? Dijamin bosen dan rasanya itu gak ada tantangan.
Fakultas gue itu kebetulan anak bungsu, jadi mahasiswanya baru sedikit. Tapi hebatnya bisa ngadain kuliah umum dari Wakil Presiden baru, Pak JK (panggilan akrabnya). Gilaaa, itu pertama kali denger langsung seorang pemimpin ngasih materi yang gak bakal lo dapet dari dosen manapun. Kharisma dan kesederhanaannya itu kerasa banget. Semoga beliau bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik ya. Marilah kita berdoa. Amin.
Gak lama setelah acara itu ada acara besar kedua yang diadain Fakultas gue, jenis acaranya gathering gitu. Dari sesepuh sampai angkatan gue kumpul disana. Acaranya seru-seruan gitu, outbound, games, dan sekaligus ajang modus para jomblo. Dari acara ini jadi bisa kenal banyak kelas, ya lumayan buat tanya-tanya tugas, nambah link juga, malah ada temen gue lagi PDKT sama kakak kelas. berarti acara itu berhasil. Good job, HIMIKOM! 
Acara itu menghapus sejenak bayang-bayang tugas di pikiran, tapi setelah itu...back to my daily activities
Tiada hari tanpa begadang (serius, gak bohong). kurang lebih tiga minggu gak bisa tidur nyenyak, selalu mata panda dan gue akalin pake concealer pun masih kentara. Begadangnya udah biasa, tugas pun udah biasa, yang gak biasa itu BACA BUKU. 
Selama ini yang gue sebut baca buku itu cuma NOVEL. Dari SD-SMA gue selalu ogah-ogahan kalo disuruh baca sama nyokap. Padahal nyokap selalu bilang "buku itu jendela dunia", waktu kecil gue mikir, mana ada jendela muncul dari buku kan. Apa dengan kita baca buku kita bisa liat dunia? Dulu gue ketawa denger nyokap gue bilang gitu. Dan sekarang...itu BENAR. Salah seorang dosen gue ngasih tugas makalah, dilarang keras copas (copy-paste) apalagi ngambil sumber dari mbah google (kecuali ebook). Diharuskan minimal 10 buku literatur. Itu tuh kerasa banget, menghilangkan malasnya baca buku tuh susah banget. 
Gue nyari-nyari buku-buku referensi di toko buku terdekat, dan pas lewat jajaran novel-novel itu rasanya gatel banget pengen beli. Awalnya gue ngeluh-ngeluh dengan tugas itu, tapi sekarang sadar tujuan dosen nyuruh kita baca buku itu bener. Gue ngerasain sendiri. 
Materi presentasi gue itu menyangkut filsafat ilmu, mau gak mau gue baca buku filsafat (sampe bela-belain beli). Gak bisa satu kali baca gue ngerti, berkali-kali gue baca baru gue ngerti maksud dari tulisan-tulisan itu, dan itu tuh rasanya seneng banget, ketika lo bisa tau sesuatu yang baru. 
Ketika kita menghakimi bahwa kita itu malas, maka seluruh tubuh kita bakalan merespon rasa malas itu. Tapi, ketika kita bisa memotivasi diri kalo kita BISA, dan ketika kita benar-benar BISA melakukan hal itu, pasti ketagihan dan bakal muncul rasa bangga kalo kita bisa ngelawan rasa malas itu. 
Begitulah kurang lebihnya, ini hanya sebagian kecil yang bisa gue tulis. Banyak hal-hal lainnya yang terjadi, mungkin banyak cerita-cerita lainnya yang bakal gue tulis di lain hari.
Semoga bisa banyak waktu buat sekedar berbagi cerita disini.
Intinya, Do all your work with all your sincerity, so you'll find its benefits.



She's Died, But My Love Isn't

Sunday, September 28, 2014

I never expected that I should through this. So bitter and I didn’t know how deep this hurt.  What do you think was wrong? Who was wrong? Why did it happen to me? WHY? God, WHY?
I’m not judge the God, but why You didn’t give me the opportunity? I wanted to see her in her last breath, beside her when she was closing her eyes. I promised to always beside her, but I couldn’t keep that.
I know her when I was senior high school. She wasn’t a prettiest girl in my school, but she was so fascinating. A cheerful girl, with those smile. Sweet. Her eyes was gorgeous when the sunlight touched her face. I love her  with all her simplicity.
When the Cupid came, finally she’s mine. All we passed together. Laugh and tears, happy and sad, mad, jealous, etc. We’ve made an unforgettable moments ever in our life. She was complete me.
 I won’t make she shed her tears. But I did. She hate me when I was smoking.  I was angry, I told roughly  to her. At that moment I saw the tears drops on her cheek, then she ran so fast. I chased her, but then I turned around.  I apologized to her, and promise never let her cry again.
Too many moments in last 3 years with her. She’s like my heroin. I couldn’t life without her. Every steps I took, every prays, every breaths, I always think of her. She’s my valuable thing in my life, my tremendous mate.
When we’ve done the senior high school, I continued to study in UNPAD, and she chose IPB. We separated by distance and time. It didn’t matters. I believed we’re mate.
Day to day we passed. About a month after we took long distance relationship, I should hear a news that could make my heart stop beating. Suddenly she died. Honestly, she never told about her sick. Nobody knew, although her parents. Before went to campus she got persistent cough that discharging blood. She called her father, then she took to the hospital. On the way before she arrived there, she breathed last. God have taken her to His side.
This was so fast for me, I adore her, I love her more than anything. But, God loved her more than me. She took my love to the heaven.
Honey…you’re my best mate I ever had. Nobody can change your position. 
Honey…wait me there..
I LOVE YOU 

(Inspired by a real story with some adaptation)

Tentang (Mengurangi) Rasa Sakit Hati

Friday, September 26, 2014

Pernahkah teman-teman merasa nyeri di area sekitar dada, tiba-tiba nafas terasa sesak, ada yang seperti sesuatu yang mengganjal dileher?
Setelah gejala-gejala tersebut terjadi kemudian mungkin sebagian diantara kalian ada yang pelupuk matanya tiba-tiba panas, air mata menggenang, dan jatuh begitu saja? Sehingga semakin terasa nyeri di dada?
Pernahkah?
Itulah sakit hati. Bukan liver atau hepatitis. Sakit ini dirasakan ketika ada hal yang dirasa tidak sesuai dengan harapan/keinginan, sehingga memunculkan rasa kecewa yang mendalam. Banyak penyebab orang sakit hati, diantaranya yang terjadi di usia 13-25th, yakni :
1. Tidak dipenuhi keinginannya oleh orang tua
2. Putus dengan pacar
3. Pacar selingkuh
4. Difitnah
5. Orang yang disuka sejak lama malah berpacaran dengan orang lain/ bahkan menikah
6. Gagal mendapatkan universitas yang diimpikan (banyak korban setelah pengumuman SNMPTN/SBMPTN)
7. dipehape'in
8. Gagal mendapat pekerjaan
9. Mantan punya pasangan baru
10. dan masih banyak lagi...
Masalah-masalah diatas sangatlah lumrah kita alami.
Ketika sedang merasa sakit hati kebanyakan orang mengeluh, mencaci maki orang yang menyakitinya, sampai mendoakan hal-hal buruk, atau malah ada yang tidak mau makan sampai sakit, dan yang terparah adalah bayak kasus bunuh diri karena sakit hati.
well,  cara-cara diatas itu bukan cara jitu menghilangkan sakit hati. Semakin kamu membenci semakin kamu mengingat sakit itu. Walaupun saya tidak ada apa-apanya dibandingkan om Mario Teguh, tapi mungkin cara ini bisa membantu kalian yang sedang dalam keadaan down.
1. Berdoalah pada Tuhan kalian, minta petunjuk dan bimbingan-Nya. (jangan menyalahkan Tuhan)
2. Kendalikan diri dan emosi kalian
3. Ingat bahwa ini sebuah 'ujian' yang ada akhirnya
4. Ingat pula dibalik semua masalah yang kalian hadapi, ada Tuhan yang menyiapkan rencana luar biasa untuk kalian
5. Menangislah sepuas-puasnya jika itu bisa membuat kalan tenang
6. Ceritakanlah masalah kalian pada orang yang bisa dipercaya, seperti keluarga, sahabat, dll
7. Jangan menyimpan masalah sendiri, karena itu akan membuat hidup lebih terasa berat
8. Carilah hal-hal yang bisa menghibu kalian, misalnya main bersama teman, mendengarkan musik, dll
9. Jangan berniat melupakan masalah/sumber masalah tersebut, biarkan semua mengalir. Semakin kalian ingin melupakan semakin sering pula pikiran kalian memutar ulang cerita menyakitkan itu
10. Tetaplah tersenyum, dan katakan terima kasih kepada orang yang menyakiti kalian karena mereka kalian bisa belajar lebih kuat lagi menjalani hidup. Katakan terima kasih pada kegagalan, karena kalian akan tahu bagaimana proses menjalani hidup yang sebenarnya.

Saya bukanlah siapa-siapa, saya bukan orang hebat. Saya pun masih belajar menjalani kehidupan ini. So, thank to all people around me, you're my great inspirations. Semoga apa yang saya tulis bisa membantu teman-teman.
Terima kasih sudah membaca :)

Seperti Apakah Indonesia Kelak?

Wednesday, September 24, 2014

 "Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah  kesangsian.Tetapi, jika orang sudah mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan." (Sir Francis Bacon)

            Tahun 2015, ASEAN akan memulai ASEAN Free Trade Area (AFTA), lalu di tahun 2020 WTO akan mengadakan perdagangan bebas secara global. Artinya, seluruh Negara di Asia maupun Negara di dunia lainnya akan melakukan perdagangan secara bebas tanpa adanya pajak masuk ke wilayah territorial Negara lain. Sudah siapkah Indonesia?
            Tentu jawabannya adalah : belum. Indonesia belum siap menghadapi pasar bebas tersebut, baik di tahun 2015 maupun 2020. Mengapa demikian? Karena dapat kita lihat dan kita rasakan sendiri bahwa kini Ibu Pertiwi sedang dilanda krisis, baik itu krisis ekonomi, krisis budaya, bahkan krisis moral.
           Setiap tahunnya angka pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu meningkat walau sedikit demi sedikit. Namun, pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, korupsi yang semakin merajalela, kenaikan harga BBM dan atau kebutuhan rumah tangga lainnya ikut menyengsarakan sebagian besar warga Indonesia. Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Urbanisasi penduduk dari desa ke kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta memperbanyak jumlah pengangguran dan slum area jika mereka tidak memiliki skill yang mumpuni.
            Di sisi lain budaya Indonesia kian lama kian tergerus oleh arus modernisasi dan westernisasi, atau bahkan koreanisasi yang marak di kalangan remaja. Budaya-budaya asli Indonesia mendapatkan respon yang kurang dari para generasi penerus bangsa ini. Padahal budaya merupakan identitas suatu bangsa, maka sudah seyogyanya kaum muda mengetahui, mencintai dan dapat melestarikan budaya-budaya yang ada di nusantara ini. Jika begini, adanya perdagangan bebas akan semakin memperparah krisis budaya di Indonesia.
            Lalu bagaimana dengan moral dan mental bangsa Indonesia?
Di Negara Barat, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, harmonis, dan bersahaja. Namun, kini  banyak bangsa Indonesia yang saling menjatuhkan, saling serang, bahkan saling bunuh. Bukan hanya itu, ketidakjujuran, ketidakadilan, keserakahan, dan ketidakdisiplinan semakin melekat dalam diri setiap bangsa Indonesia. Hal ini terus menggerogoti moral bangsa, mulai dari pemerintahnya hingga rakyatnya, termasuk remaja. Jika calon penerus bangsanya belum memiliki moral yang baik, lalu siapa yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik?
Mau tidak mau, suka atau tidak, sudah menjadi keharusan bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk menyelamatkan Indonesia dari segala keterpurukannya. Indonesia tidak membutuhkan orang pintar, Indonesia membutuhkan orang-orang cerdas. Bukan hanya secara intelektual (IQ), namun kehidupan religius (SQ) dan emosionalnya (EQ). Tiga hal ini harus dimiliki secara seimbang oleh setiap bangsa Indonesia.
Jika Indonesia ingin maju seperti Jepang, atau seperti Singapura yang kecil namun dapat menata segala aspek kehidupannya dengan baik, maka Indonesia harus benar-benar membangun karakter bangsa ini. Kini pemerintah sudah mewajibkan di setiap satuan pendidikan untuk menerapkan ke-18 aspek pendidikan karakter pada setiap siswa-siswinya. Selain itu bangsa Indonesia juga sudah seharusnya  menerapkan 9 prinsip dasar kehidupan, sebagai berikut :
1.      Etika
2.      Kejujuran dan Integritas
3.      Bertanggung jawab
4.      Hormat pada aturan dan hukum masyarakat
5.      Menghormati hak orang lain
6.      Cinta pada pekerjaan
7.      Berusaha keras untuk menabung dan investasi
8.      Bekerja keras
9.      Tepat waktu

Jika ke-9 prinsip kehidupan diatas dapat diterapkan dalam diri setiap bangsa Indonesia, maka tidak ada lagi korupsi, ketidakadilan, bahkan kemiskinan, pengangguran, dan segala permasalahan yang kini melanda Indonesia sedikit demi sedikit akan berkurang atau bahkan  tak akan ada lagi. Dengan demikian Indonesia dapat benar-benar jaya dan merdeka karena sang garuda telah menunjukan kesaktiannya.

Love, It's Like the Narcotics

Sebenernya ini tulisan yang 'tidak layak' saya tulis. Isi tulisan ini hanya sebatas apa yang saya rasakan dan lihat di kehidupan remaja. Mungkin bapak B.J Habibie atau mereka yang pernah merasakan kehebatannyalah yang lebih pantas bercerita tentang hal ini. Tapi ini versi saya. So let's read it, now!
Cinta
Hahaha itulah yang akan saya bahas kali ini.
Apakah itu? Seperti apakah bentuknya? Pernahkah merasakannya?

Stop!
Sebelum dilanjutkan, coba buka pikiran Anda lebar-lebar, jauhkan pikiran bahwa cinta itu hanya antara pria dan wanita (kekasih).
Jujur ini terlalu dini untuk saya bicarakan.
Ketika bertanya, "apa itu cinta?"
apa yang ada di benak Anda?
Berbagai macam jawaban. Bisa sampai satu buku untuk menjelaskannya, atau mungkin tidak dapat dijelaskan?
In my opinion, love is like the narcotics. why? 
Narkotika adalah berbagai macam zat/hal yang bisa membuat orang kecanduan. Orang yang sudah terkontaminasi narkotika akan melakukan apapun demi mendapatkannya. Mulai dari hal masuk akal sampai yang melanggar hukum sekalipun. Ketika barang itu tidak ada, si pemakai akan merasa gusar, hidupnya tidak tenang. Selalu merasa butuh. 

Lalu apa hubungannya dengan cinta?
Contoh kasus :
Selama ini, seberapa sering Anda mengungkapkan perasaan sayang Anda terhadap orang tua? saya yakin jawabannya, jarang.
Lalu, seberapa sering Anda merasa membutuhkan mereka? Jawabannya, in every breathe you take, every steps, every prays, every minutes, every seconds. Bukan hanya kehadiran raganya saja, kita juga membutuhkan saran, doa, dan dukungan dari orangtua (keluarga).Bagaimanapun mereka, mau jelek, cakep, kaya, miskin, galak, cerewet, cuek, kasar, dsb kita akan merasa "butuh".
Itulah cinta. Ketika mereka tiada kita merasa sedih, galau, kecewa, gelisah, dsb.
Ketika cinta itu sudah terbentuk tidak ada alasan untuk mengecewakan dan menyakiti mereka. Bahkan selalu ingin melakukan yang terbaik dan mengukir senyum diwajah mereka. Menerima apa adanya segala keadaan mereka. Tak jarang cinta harus rela berkorban.

love is not a desire, it's our needs to stay alive~

Atasi Ledakan Kendaraan, Pemerintah Harus Adakan Program KB (Kendaraan Berencana)

Thursday, September 18, 2014

Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia tahun 2013 sudah melebihi jumlah penduduk total. Angka ini diperkirakan terus meningkat. Pemerintah kalang kabut mengatur subsidi BBM. Besarnya subsidi BBM dijadikan ladang basah oleh beberapa oknum. Ketika subsidi dicabut rakyat berteriak, katanya pemerintah kehabisan uang, tidak mengerti rakyat, menyusahkan rakyat kecil, dsb. Peraturan plat merah menggunakan pertamax pun tidak benar-benar dipatuhi. Tetap saja ada oknum yang membeli premium, meskipun kendaraannya berplat merah.
Dilansir dari sebuah artikel di situs berita online, detik.com, Kamis (18/09/14), Hanung Budya mengatakan bahwa, "Manusia bisa meninggal, mobil di Indonesia tidak bisa meninggal," saya setuju dengan pernyataan beliau. Bagaimana bisa 'meninggal' jika setiap tahun terus berdatangan mobil-mobil baru ke Indonesia? Jika pemerintah membatasi kuota impor mobil, otomatis para pengusaha akan merugi. 
Bertambahnya jumlah mobil di Indonesia setiap tahunnya, dengan model baru dan terus diperbaharui membuat daya beli masyarakat meningkat. Apalagi dengan adanya program Low Cost Green Car yang sempat ditentang oleh presiden terpilih, Joko Widodo. Karakter bangsa Indonesia yang cenderung konsumtif dan seringkali mengutamakan prestige menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk untuk memasarkan produknya. Pengadaan kredit kendaraan bermotor pun bagaikan jamur tumbuh dimusim hujan.
Fenomena ledakan kendaraan ini tentunya membuat jalan-jalan di sebagian wilayah di Indonesia, terutama pulau Jawa rawan kemacetan. Kemacetan ini bukan hal sepele. Hanya karena macet, setiap harinya Jakarta merugi milyaran rupiah.
Jika kita melihat tingginya pertumbuhan penduduk, lalu pemerintah mengadakan program keluarga berencana, mengapa pemerintah tidak menerapkan cara ini pada ledakan kendaraan saat ini? 
Kendaraan Berencana, dalam pikiran saya setiap keluarga dibatasi hanya boleh memiliki maksimal 2 buah mobil dan atau 2 buah motor. Jika sekarang satu keluarga, Ayah, Ibu, dan 3 anak, memiliki masing-masing sebuah mobil/motor dikalikan seluruh jumlah KK di Indonesia, maka jumlahnya akan amat sangat banyak. Coba apabila, satu keluarga hanya memiliki 2 motor dan atau 2 mobil, maka jumlah mobil dan motor yang turun ke jalanan akan sedikit berkurang. Cara ini harus ditunjang dengan penaikan tarif pajak kendaraan bermotor. Dan juga perbaikan pada seluruh sarana transportasi umum.
Saya tahu, ini bukan sebuah perkara mudah. Akan menimbulkan banyak protes, dan bahkan mungkin kecaman terhadap pemerintah. Tapi jika tidak begitu, apakah 50 tahun mendatang masih akan ada udara bersih untuk generasi kita kelak? Apakah masih akan ada minyak bumi yang dapat ditambang? Apakah bumi ini tidak akan murka jika semua kekayaannya kita gunakan terus-menerus tanpa adanya pertanggungjawaban atas alam yang kita rusak? Masih adakah ruang kosong untuk kita bernafas, jika semua tempat penuh dengan kendaraan? 
Mari kita renungkan bersama.

I need you, Star...

Star...
You know all my secrets, though God knows everything about me.
I share all my happiness and sadness to you
I hope you'll understand me when they wasn't.
I know, this is such a crazy thing i did but I'm glad to do it
I hate Jakarta and its surrounding's night sky, they don't let you to shine
When i'm down, i just need you to cheer me up.
Star..
You are so far, I can't reach you
but you always there to see me.
I just wanna scream loudly
I don't know who can I talk with
I can't see you last night. I hate that.
Nobody here, star.
when the tears was shedding, I only need to see you, to calm me down
Don't you ever leave the sky.
I need you...
Just shining in the dark sky, It'll make me happier to see your gorgeous light

Ketika Hidup Masih Harus Berjalan [cerpen]

Sunday, September 14, 2014




Riak air danau nan tenang semakin sempurna diterpa hangatnya sinar mentari sore. Semilir angin menyentuh tubuh mungilnya dengan lembut. Rambut hitamnya diikat asal-asalan sehingga menyisakan rambut disekitar leher. Cantik. Begitulah Alena, sederhana namun memesona.
Danau itu begitu teduh dengan pepohonan disekelilingnya. Alena bersandar pada sebuah pohon akasia di sebelah barat danau. Matanya mengitari setiap sudut danau. Apa yang ia lihat seolah meresonansi pikirannya, memutarkan kembali cuplikan-cuplikan kisahnya bersama Glen. Danau ini menyimpan banyak rahasia dan kisah hidupnya. Danau ini tempat pelariannya, mencurahkan segala suka duka dan keluh kesahnya. Namun, kini semua tampak memilukan. Bayangan-banyangan Glen terus muncul tak terkendali.
"Alena! kamu kusut banget sih, kucel pula kayak kuli panggul di pasar tau. Hahaha" Ejekan Glen seperti itu tak akan pernah Alena lupakan. Nyaris semua orang memuji kepintaran dan kemolekannya, tapi Glen tidak. Dia seringkali mengumpan emosi Alena dengan ejekan-ejekannya. Seperti anak-anak, namun diam-diam Alena suka. 
Disebelah selatan danau ada sebuah ayunan yang terbuat dari ban. Ayunan itu sering Glen gunakan. Tak jarang Alena menarik Glen yang ada di ayunan dan mendorongnya keras-keras. lalu Glen berteriak keras-keras, "Alenaaaaa! Aku takut, Len. Aaaaaa mamaaaaa. Turuuuun...turuuun..mamaaaaaa..." Suara itu terus terngiang-ngiang ditelinganya.
Rasa sakit itu kembali datang, sakit yang tak akan ada obatnya. Rintihannya tiada berarti lagi. Tak ada orang yang bisa menolongnya, kecuali dia sendiri. Hatinya berkecamuk, bercampur rindu yang sudah tak tertampung lagi.
Pelupuk matanya terasa panas, tak terasa air mata mengalir membasahi pipinya.
"Lena...." tiba-tiba suara itu mengejutkannya. Alena cepat-cepat mengusap air matanya, ia menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Kia..?" sahutnya lirih.
"Ngapain disini? Glen lagi?"
Alena tidak menjawab. Matanya memandang ke atas jingganya langit sore.
"Len, Glen udah gak ada. Lo harus ikhlasin dia, Len. Sampe kapan lo kayak gini? ini udah tiga tahun, Glen juga pasti sedih kalo lo gini terus, Len." 
Kia duduk disebelah Alena. Memandang gadis itu penuh kasih.
"Lo tuh cantik, Len. Banyak yang suka sama lo, termasuk..."
"Termasuk lo? Maaf, Ki. Lo gak usah sok tau. Lo gak pernah ngerasain jadi gue. Lo gak tau rasanya kehilangan, apalagi ketika semuanya tinggal selangkah lagi gue dan dia itu bersatu.Lo gak tau..." Alena tak kuat menahan emosinya, air matanya tak tertahankan lagi.
"Maaf, Len. Gue cuma gak mau lo sedih terus. hidup lo masih panjang."
"Makasih buat perhatian lo selama ini. Maaf gue gak bisa ngebales apa yang lo kasih." sahut Alena tegas.
Kia hanya dapat tersenyum kecut. Ia mengerti bahwa gadis yang telah lama ia sayangi ini masih tidak bisa merelakan kepergian Glen. 

Alena, Alena, Alena...gue sayang sama lo sebelum Glen. sebelum cowok itu ngerebut perhatian lo. sejak kita masih putih biru. Alena gue sayang banget sama lo. Batinnya. 
Alena mengalihkan pandangannya pada Kia.
"Ki, lo tau kenapa gue sampe gini padahal gue dan dia gak pernah jadian?"
Kia menggeleng pelan.
"Karena...dia gak  menilai kelebihan gue doang, dia berani bilang kekurangan gue. Dia gak pernah bilang sayang sama gue, tapi...apa yang dia lakuin, perhatiannya, semuanya dia lakuin tanpa syarat. Mulut dia mungkin gak berani berucap, tapi tatapannya dan tindakannya cukup menggambarkan perasaannya."
Kia terkejut. Ternyata begitu dalamnya cinta mereka meskipun mereka saling memendam perasaan masing-masing.
"Saat itu gue tau Glen mau ke rumah gue, polisi nemunin satu buket bunga mawar putih sama boneka beruang. Ada sepucuk surat yang ditujukan buat gue. Dia nelpon Joni buat minta saran gimana cara ngilangin grogi kalo nembak cewek, tapi pas dia telpon...tiba-tiba ada truk yang nabrak dia dari arah berlawanan. Semuanya hancur. Mobilnya, badan Glen, dan terlebih hati gue, Ki." lanjutnya.
Sekarang Kia mengerti bagaimana perasaan Alena. Sedikitnya dia tidak terlalu menggebu-gebu lagi untuk memiliki gadis mungil itu.
"Len, lo boleh sayang Glen selamanya. Tapi bukan berarti lo harus berkubang dalam semua kepahitan ini. Lo harus bisa keluar dari semua ini. Bangun, Alena. The world is waiting for you." kata Kia sambil terus menatap Alena lekat-lekat.
Alena tersenyum.
"Thanks. Gue butuh sedikit waktu lagi, Ki."

I hope you're in His side. Thanks a lot for all your sincerity. Though we were not be together in this world, but I was so glad to be with you. Glen, i want to share my life and my heart to a man who loves me like you. Will you allow me to take someone else into my life? Glen...I adore you

***


KUNINGAN VS DEPOK

Tuesday, September 09, 2014

Karena setiap cerita memiliki latar, maka setiap tempat memiliki cerita - Veronika
Karena mengejar cita-cita, sampailah saya di sebuah kota yang letaknya berdampingan dengan Jakarta Selatan, yaitu Depok. Pindah dari sebuah kampung ke kota. Semoga gak kampungan,ya? Hahaha
Serius nih, saya berasal dari desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Sebuah desa yang terletak dikaki gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai (3728 mdpl). Bisa dibayangkan betapa sejuknya disana. Udaranya sejuk jauh dari polusi, airnya bersih, pemandangan alamnya juga top banget deh. Tak heran banyak tempat-tempat wisata alam di Kuningan, seperti Palutungan, waduk Darma, Cibulan, si Domba, terapi ikan, dsb. Dilahirkan dan dibesarkan disana adalah sebuah kebanggaan. Unsur budaya sunda masih kental disana. Masih ada upacara Seren Taun (upacara ujud syukur atas panen) yang kental dengan budaya sunda dan masyarakatnya pun masih berahasa sunda.  
Walaupun betah tinggal di Kuningan dengan segala kenangan dan keindahannya, saya tetap harus pindah ke Depok. Bukan hanya saya, tapi sebagian lulusan SMA yang ada di Kuningan melanjutkan pendidikan ke luar daerah. 

Selamat tinggal Kuningan beserta seluruh isinya... 
Depok, aku datang. Semoga betah dan menyenangkan tinggal disini.

Kata-kata itu saya ucapkan tepat satu bulan lalu saat pindah ke Depok. Hingar bingar khas perkotaan sudah tercium ketika mobil melaju dari arah Lenteng Agung menuju Margonda. Jalan yang tidak pernah sepi. Jangtung kota Depok, disanalah saya tinggal. Dari ujung ke ujung terpampang banyak pertokoan, mall, bank, kampus, restoran, dll. Rasanya hanya sedikit tempat yang banyak pepohonannya, rata-rata didominasi bangunan. Jauh berbeda dengan Kuningan.
Akses kemana-mana sangat mudah, ada angkot, KRL, dan bus yang siap mengantar kita kemanapun. Mau nonton film? Banyak bioskop. Mau makan? Dari yang harga ribuan sampai ratusan ribu rupiah ada disini. Mau belanja? tinggal pilih Mall yang mana. 
Mau lihat bintang?
DEG! Itulah yang tidak ada disini. Langit malam tertutup polusi udara yang tebal sehingga hanya ada sedikit bintang yang bisa terlihat, bahkan seringkali tidak ada sama sekali. Dan itu sangat amat menyebalkan! Depok punya semua yang tidak ada di Kuningan, tapi yang tidak ada di Depok ada semua di Kuningan. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Keduanya saksi bisu perjalanan hidup saya.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS