Pages

Without Jokowi’s Permission, AGO to Summons Novanto Soon

Friday, January 08, 2016



Setya Novanto (Photo: Ilustration by oleh Zaki Alfarabi/detikcom)


Jakarta- The Attorney General Muhammad Prasetyo said that summoning Setya Novanto related cases of alleged evil of agreement does not require the permission of the President Joko Widodo. The House of Representative's (DPR) ex speaker will call soon for questioning.

“Soon we’ll ask for information. We’re on meeting, tomorrow we’ll decide when (summoning Novanto),” said The Deputy Attorney General for Special Crimes (Jampidsus) Arminsyah, Thursday (1/7/2016).

Arminsyah said that the status of the handling of the case is still in the investigation stage. Whereas, so far prosecutors have obtained a number of statements from various parties, including the President Director of PT Freeport Indonesia , Maroef Sjamsoeddin .

“Not yet, now we are asking for information. The inquiry in order to collect the evidences,” Arminsyah said.

Attorney General Muhammad Prasetyo called his team has conducted assessments associated with the calling Novanto about the alleged evil of agreement. Prasetyo decided that summon of Novanto doesn’t require the permission of President Joko Widodo

We have done studies that we have studied the existing provisions . Basic permit application to the president in fact in accordance with Article 224 of Law MD3, there is stated that the inquiry board members require the President's approval so far as it relates to the duties of a board member in question , " said Prasetyo, Thrusday (1/7/2016).

But a moment later , Prasetyo said that what Novanto have done unrelated with his duties as House speaker. Prasetyo said no information from the Secretary General of the House that a meeting that -called ' papa ask for stock ' is not on the agenda.

"What Setnov unrelated to his job , confirmed by the statement of the Secretary General of the House that it wasn’t scheduled . Because it was unrelated, then we don’t need to ask permission, " said Prasetyo .


This post only re-write the news from detik.com to fulfill my assignment. I don't mean plagiarism. Thank you.
source:
(Thursday, 07 Jan 2016, 20:30 WIB)

KITA BISA, INDONESIA BISA!

Monday, August 17, 2015

"skali merdeka tetap merdeka.. "
Merdeka... Satu kata penuh makna, penuh perjuangan, pengorbanan, dan... Cinta.
Merdeka itu asa. Merdeka itu bukan hanya mengusir tentara asing dari negara kita, tapi mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan negara. Ketika itu semua terwujud maka itulah kemerdekaan yang hakiki.
Apa saja cita-cita bangsa kita? Apa saja tujuan negara kita? Tentunya itu semua sudah tertuang dalam Pembukaan UUD NKRI tahun 1945. Sudahkah kita merasakan hidup yang benar-benar merdeka, berdaulat, adil dan makmur? Sudahkah kita, seluruh bangsa Indonesia merasakan hidup sejahtera jika kemiskinan masih menyelimuti sebagian bangsa kita? Sudahkan hukum itu adil ketika pencuri cokelat dituntut
hukuman 5 tahun namun sebagian koruptor mendapat hukuman penjara 5-20 tahun saja? Sudahkah seluruh bangsa ini cerdas ketika tenaga kerja lulusan sekolah dasar lebih banyak daripada lulusan perguruan tinggi? Sudahkah negara ini melindungi seluruh rakyatnya ketika ada oknum polisi yang menganiaya warga?
Terlalu banyak problema di usianya yang sudah 70 tahun. Mengapa hingga kini Indonesia belum bisa mencapai cita-citanya? Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan? Siapa yang patut disalahkan? Presiden kah? Pemerintah? Menteri? Atau kita semua? Siapa yang bisa mewujudkannya? Apa yang harus diubah?
Kita tak harus menjadi presiden atau politikus untuk membuat negeri ini lebih baik. Tak perlu ingin mengubah ideologi  negara, mengubah tatanan hukum, atau mengubah orang lain. Mulailah dari dalam diri kita sendiri. Mulailah menjadi diri yang berbudi luhur, jujur, pantang menyerah, bertanggung jawab dan memiliki mimpi. Jangan serta merta menyalahkan presiden atas segala permasalahan ini. Jangan menyalahkan pemerintah, menteri, dan orang lain. Lihatlah diri kita sendiri. Sudahkah melakukan yang baik dan menghindari yang jahat?  (bonum vivendum, malum evitandum).
"Ask not what your country do for you, ask what you can do for your country" kata John F. Kennedy.
Kita pasti bisa! Indonesia bisa! Ayo kerja!
DIRGAHAYU 70th INDONESIAKU.

Maukah Kau Menjadi Pelita?

Sunday, July 12, 2015

Ambilah sebuah kertas asturo hitam. Bentangkan! Lihatlah, hanya warna hitam yang kau lihat. Coba ambilah sebuah correction pen, buatlah satu titik di manapun di atas kertas asturo hitammu. Lihatlah kertas itu secara keseluruhan. Bukankah matamu akan tertuju pada titik putih itu?
Setitik ditengah kegelapan terlihat lebih menarik perhatian. Namun, bisa saja ia menjadi abu-abu, memudar kemudian menyerupai sang hitam.
Kau, ya dirimu yang membaca tulisan bodoh ini. Maukah kau menjadi setitik cahaya di tengah gelapnya dunia? Bukankah ketika gelap kita mencari pelita? Bukankah terang selalu menghadirkan keindahan yang memanjakan mata? Bagaimana jika kau buta? Kau juga ingin melihat bukan? Tapi sayang, dunia yang kelak kau lihat terlalu gelap. Terlalu berbahaya hingga kau harus berhati-hati.
Aku berterima kasih kepada matahari yang mengiringi kehidupan ini, tapi mungkin kelak ia akan lelah berpijar. Sayang, cahayanya tak kan bisa menerangi titik terdalam hati makhluk berdosa seperti kau dan aku.
Kita takut menjadi putih di tengah hitam, tapi suka menjadi hitam di tengah putih.
Sungguh keliru. Ya, dunia ini mulai keliru.
Yang putih bisa menghitam, namun hitam tak kan memutih. Manusia punya keduanya. Sisi hitam dan putih. Keduanya bak kedua sisi koin yang tak bisa dilepaskan. Namun sisi manakah yang akan kau tunjukkan? Ataukah kau lebih suka bertopeng?
Dunia ini terlalu luas, kejam, dan gelap untuk kau bisa berdikari. Apakah yang kau cari? Apa yang kau ingini?
Seperti apakah manusia sebenarnya? Bukankah kata leluhur, kita ini makhluk paling sempurna yang lebih daripada binatang dan tumbuhan? Tapi, jika manusia seperti kita membunuh anaknya bukankah mereka lebih kejam dari seekor singa? Jika manusia korupsi bukankah mereka lebih menjijikan daripada seekor tikus got? Jika manusia memfitnah bukankah mereka lebih licik daripada seekor ular?
Pembuatan-perbuatan itu tak lain adalah sebuah warisan turun temurun dari pendahulu kita. Jika manusia sebelum kita ingin dunia ini terang benderang, mereka akan berdiri sebagai setitik cahaya. Tapi, sudah ku bilang, dunia ini terlalu kejam. Setitik cahaya yang diikuti titik-titik lainnya bisa padam karena hembusan angin. Seketika gelap gulita. Mampukah untuk kembali bercahaya? Atau kau bersembunyi bersama hitam lainya?  Karena hitam tak bisa memutih, maka jagalah cahaya itu walau setitik. Kau pikir itu tak ada artinya, namun setitik lebih menarik daripada semuanya hitam dan gelap. Kau pikir itu sulit, tapi perjuanganmu kan sebanding dengan upahmu kelak. Bukankah bintang di langit pun tak pernah menjadi besar untuk terlihat indah? Karena setitik,nan cantik jauh lebih berarti. Be different!

PESANKU KEPADA 'BINTANG'

Thursday, June 04, 2015

Aku tak pernah berkata "Aku cinta padamu", tapi kau pasti tahu itu.
Aku tak juga pernah berkata "Aku mengagumimu", dan kau pun begitu.
Tak banyak kita saling berucap. Namun hati yang bergelora.
Kau pernah berkata "Tak ada yang tak mungkin, harapan selalu ada".
Bisa jadi kau benar, namun bisa jadi salah.
Sayang, kali ini kau salah.
Aku berharap kau selalu ada di sampingku. Merasakan kebahagiaan itu bersama.
Tapi kau pergi.
Membiarkan harapanku sirna.
Pedih.
Seakan aku tak boleh merasakan apa yang telah mereka rasakan saat bersamamu.
Aku tak bisa melihat bibirmu menyunggingkan senyuman itu lagi.
Kepulan asap rokokmu tak bisa aku cium lagi.
Mengapa kau pergi saat aku baru mengerti betapa berartinya dirimu?
terlambatkah aku?
Apakah kini kau bisa melihat perjuanganku mewujudkan impianmu--impianku?
Kuharap begitu.
Apa kau tau aku rindu?
Suaramu. Bau tubuhmu. Tawamu. Semuanya.
Aku tak tau bagaimana cara ku bertemu denganmu.
dalam mimpikah?
Hanya untaian doa yang mengiring rinduku padamu.
Semoga kebahagiaan hadir selalu kepadamu.
Semoga kelak aku bisa bersama denganmu, didekatmu.
Jika saja kau melihat ini,
aku hanya ingin berkata bahwa AKU RINDU.
Tapi ku tak tau bagaimana aku berkata padamu.
Doakan aku kelak menemukan orang seperti dirimu.
Kukirimkan peluk cium melalui hembusan angin yang lembut,
dan doa-doa yang kutitipkan lewat bintang-bintang.

-Verdinaryani-



Selamat Jalan Ayah

Tuesday, February 17, 2015

Pilu. Itulah yang aku rasakan ketika dua minggu lalu (3 Februari 2015 pukul 01:53 WIB) aku mendapatkan sebuah sms dari keponakanku, “Bi, Kakek meninggal”. Seketika jantungku terasa berhenti beberapa detik, aku mematikan computer, melangkah gotai menuruni tangga, membangunkan tanteku. air mataku tumpah seketika dipelukan tanteku.
Malam itu aku terpaksa menginap di rumah seorang paman karena  ada sebuah tugas penting yang harus dikerjakan dan membutuhkan koneksi internet. Aku baru tiba di Kuningan sekitar pukul 8 pagi (2 Februari 2015). Ibuku menyambut kedatanganku, aku tau dibalik senyumnya tersimpan kesedihan yang ia tahan selama ini. Aku memasuki kamarku, disana terbaring tubuh yang begitu lemah, terbaring sakit, dengan nafas yang tersengal-sengal. Aku menyalami tbuh yang tinggal tersisa tulang dan kulit itu, menahan air mataku sebisa mungkin. Matanya sedikit melirik kearahku, lalu ia bersuara “cageur, neng?” (dalam bahasa Indonesia : “sehat, nak?”), aku menangguk pelan sembari tersenyum sebisanya.
Aku keluar dari kamar. Ibuku bercerita semua tantang keadaan ayahku. Sejak divonis kanker paru-paru 2 bulan lalu, aku bersiap untuk situasi terburuk sekalipun. Ternyata kondisi ayahku saat itu semakin menurun, tidak mau makan, minum, dan hanya tidur namun dengan mata terbuka. Seharian itu tak ada makanan ataupun obat yang masuk. Kakakku berusaha membujuknya untuk makan bubur, sedikit demi sedikit dengan bantuan air bubur encer itu ia makan. Giliranku memberinya minum, untuk terakir kalinya dalam hidupnya. Aku menatap wajahnya, tulang pipi yang menonjol, serta mata yang entah menerawang jauh kemana, saat itulah aku merasakan sesuatu yang ganjil dalam hatiku. Aku merasa jiwanya telah hilang.
Ibuku dengan sabar memberikan 4 butir obat, namun ayah tetap menolak. Dicoba hanya 2 butir pun tetap saja tak mau ia telan walaupun sudah banyak dibantu air. Aku tak kuasa melihatnya, akhirnya aku keluar kamar. Mengambil laptop dan mengerjakan tugas. Sesekali aku memasuki kamar sekedar untuk melihatnya, tak sampai 5 menit aku keluar lagi. Tidak tega, dan aku tak ingin ada air mata diadapannya meskipun ketika mandi air mata itu mengalir bersama guyuran air diwajahku.
Ketika aku hendak pergi ke rumah pamanku, beberapa anggota keluarga besarku datang menjenguk ayah. Aku mengerjakan tugas dengan pikiran yang entah kemana. Otakku membuat sejumlah kemungkinan. Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan momen-momen ketika aku bersamanya.
Saat aku berumur 4 tahun, aku merengek minta sekolah, ia kemudian membelikanku sebuah tas kecil yang sekarang masih aku simpan di gudang. Ketika aku mendapat ranking ia selalu bertanya hadiah apa yang aku mau. Dan sekarang aku menulis menggunakan salah satu hadiah darinya. Dia tidak pernah memanjakan aku, selalu mendidikku untuk berusaha mencapai sesuatu kemudian aku akan diberi reward.
Suatu ketika aku sedang tertidur, lalu aku terbangun mendengar suara ia datang. Aku berpura-pura tidur lagi. Ia memanggilku, aku diam saja. Ia memasuki kamarku, dan menggoyang-goyangkan wajahku, “Itu HP baru, hey bangun..bangun”. Ia selalu mengerti apa yang aku butuhkan.
Aku sangat suka buah-buahan, apalagi jeruk. Ketika sedang jalan-jalan dengannya, ia selalu menawariku untuk membeli jeruk. Ketika sepedaku rusak, ia selalu membetulkannya.
Separuh hidupnya dihabiskan untuk mengurus pemancingan. Hingga tidur disana dan jarang pulang. Walaupun dulu ia pernah bekerja di Jakarta, setelah pulang ke Kuningan, pemancingan selalu menjadi tempat favoritnya. Tak jarang aku mengetuk pintu saung di pemancingan hanya sekedar untuk meminta uang jajan sebelum berangkat sekolah.
Aku dan ayah memang tak sedekat aku dan ibuku. Momen bersamanya tak begitu banyak. Sejak ia sakit doaku kepada Tuhan adalah agar ayahku tetap sehat sehingga ia bisa ada ketika 2 momen terpentingku kelak. Disaat aku wisuda dan disaat aku menikah. Sayang, Tuhan memberikan jalan cerita yang berbeda dengan harapanku.
Aku tak sempat memberikan apa-apa padanya. Hanya nilai raport dan sertifikat lomba dari SD hingga SMA yang sempat aku tunjukkan padanya, walaupun terkadang menuai protes darinya ketika ada nilai kepala 7. Terkadang kesal dengan hal itu, tapi untungnya ia adalah ayah yang demokratis. Tidak pernah menuntut aku dalam hal apapun, hanya rambu kuning ketika aku sedikit menyimpang. Tak pernah memarahi dengan ucapan kasar ataupun perlakuan kasar secara fisik. Dia adalah laki-laki pertama yang aku sayangi.
Kepergian ayah bukan hanya kesedihanku, tapi seluruh keluarga besarku dan orang-orang yang pernah mengenalnya. Mungkin dulu ia tak selalu ada dimana aku berada, sekarang dimanapun aku berada ia bisa berada disampingku meski aku tak dapat melihat dan menyentuhnya. Apa yang ia ajarkan akan selalu aku ingat.
Good bye, Dad. I wish God will forgive all of your sins, and placed you in the right place, beside Him.
I’m still your lil’ girl. I promise I’ll do all my best efforts to make you proud of me. I love you so much.

I miss you…

#saveKPK

Saturday, February 07, 2015

http://news.detik.com/read/2015/02/06/144743/2825861/10/semoga-jokowi-tak-jadi-presiden-terburuk-dalam-pemberantasan-korupsi

SNMPTN 2015

Sunday, January 18, 2015

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tahun 2015 diluncurkan hari ini, Kamis  15 Januari 2015 di Gedung Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Jalan Jenderal Sudirman Pintu I Senayan. SNMPTN merupakan pola seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru program sarjana berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan nilai rapor dan portofolio akademik.

Dalam acara Peluncuran SNMPTN 2015 tersebut, dipaparkan mengenai pelaksanaan SNMPTN 2015 oleh Ketua SNMPTN 2015, Ketua MRPTN, dan Menteri Ristek, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Prof. Muhammad Nasir. Dalam acara tersebut juga diputarkan video tutorial cara pendaftaran SNMPTN 2015 (video tersebut bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=mIhuvwML8jk).

Berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 2 Tahun 2015 ditentukan bahwa penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2015 dapat dilakukan melalui tiga jalur, yaitu:

1.Jalur SNMPTN dengan kuota minimum 50% dari daya tampung;

2.Jalur SBMPTN dengan kuota minimum 30% dari daya tampung; dan

3.Jalur Mandiri yang diadakan masing-masing PTN dengan kuota maksimum 20% dari daya tampung.

Proses registrasi SNMPTN 2015 rencananya akan dibuka mulai tanggal 22 Januari 2015 mendatang. Pendaftaran dilakukan secara online pertama kali oleh Pihak Sekolah melalui situs resmi panitia http://pdss.snmptn.ac.id. Pada tahap ini, setiap Kepala Sekolah akan melakukan login untuk menginput data nilai siswa dari sekolahnya dan mengunduh password untuk siswa.

Proses pendaftaran akan dilanjutkan dengan verifikasi nilai dan pendaftaran ke Perguruan Tinggi oleh siswa. Siswa dapat login ke situs http://web.snmptn.ac.id mulai tanggal 13 Februari 2015 dengan memasukkan Nomor Induk Sekolah Nasional (NISN) dan password yang diberikan oleh Kepala Sekolah.  Selanjutnya siswa diminta untuk mengisi biodata, memilih program studi, mengunggah foto, hingga mencetak kartu peserta SNMPTN 2015 yang akan digunakan sebagai bukti saat proses pendaftaran ulang di masing-masing PTN yang dituju.

Sama halnya dengan SNMPTN tahun lalu, diperkirakan akan ada ratusan ribu, bahkan hingga jutaan siswa kelas XII SMA/SMK/MA/MAK dari seluruh penjuru Indonesia, termasuk siswa sekolah Indonesia di luar negeri, siap bersaing memperebutkan kursi yang tersebar di 63 PTN peserta SNMPTN.

Hati-hati dengan Ketentuan Pilihan Program Studi

Pada SNMPTN 2015, setiap siswa pendaftar SNMTPN dapat memilih sebanyak-banyaknya 2 PTN, dengan syarat salah satu PTN harus berada di provinsi yang sama dengan SMA asalnya. Namun jika hanya memilih 1 PTN, maka PTN yang dipilih bebas, dapat berada di provinsi manapun. Siswa kemudian dapat memilih sebanyak-banyaknya 3 Program Studi (Prodi), dengan ketentuan 1 PTN maksimal hanya 2 Prodi, dan urutan pilihan Prodi - PTN menyatakan prioritas pilihan.

Mengenai pemilihan prodi, ada hal mendasar yang sering dilupakan siswa, orang tua, dan sekolah. Setiap siswa kelas XII berhak menjadi peserta SNMPTN, namun tidak semua siswa memiliki peluang yang sama untuk lulus pada seleksi ini. Berbeda dengan Ujian Nasional yang bersifat mengevaluasi, dimana siswa yang mencapai nilai minimum berhak memperoleh kelulusan. Adapun SNMPTN merupakan proses seleksi yang bertujuan mencari siswa dengan nilai terbaik sesuai daya tampung pada prodi dan PTN. Maka tidak ada passing grade untuk masuk prodi - PTN tertentu, karena besar passing grade akan selalu berubah, tergantung besarnya nilai siswa pendaftar pada tahun berjalan.

Hal mendasar lain yang kerap dilupakan adalah mekanisme seleksi pada SNMPTN didasarkan pada prestasi akademik siswa selama mengikuti pembelajaran di SMA/MA/SMK/MAK. Beberapa parameter lain yang menjadi acuan, diantaranya adalah akreditasi sekolah, peringkat sekolah, prestasi lain siswa, rasio antara jumlah pendaftar dan yang diterima dari peserta SNMPTN sebelumnya, rerata IPK di PTN masing-masing dari alumni asal sekolah pendaftar, serta data pendukung lainnya.

Setiap siswa pendaftar sudah melewati fase tersebut dan memperoleh nilai rapor pada tiap semester. Dengan demikian, setiap siswa sudah dapat mengetahui peringkatnya dibandingkan pesaing di sekolah, sehingga dengan bijak dapat memilih prodi/jurusan yang peluang diterimanya lebih besar.

Siswa yang bijak tentu tidak memaksakan diri memilih prodi/jurusan pada PTN yang sama dengan siswa lain yang nilai rapor dan peringkatnya di sekolah lebih baik dari dirinya. Hal tersebut karena tidak mungkin mahasiswa baru di suatu prodi/jurusan di PTN seluruhnya berasal dari siswa sekolah yang sama.

Mekanisme Seleksi: Setiap Siswa Berhak Mendaftar, namun hanya Siswa Terbaik yang akan Diterima!

Mekanisme seleksi dilakukan 2 tahap. Pada tahap pertama, siswa diseleksi di PTN pilihan pertama berdasarkan urutan pilihan prodi. Apabila dinyatakan tidak lulus pada PTN pilihan pertama, maka akan diseleksi di PTN pilihan kedua berdasarkan ketersediaan sisa daya tampung.

Pertanyaannya, apakah universitas besar dan favorit seperti UI, ITB,UPI,UNPAD UGM, dan UNAIR mau dijadikan sebagai pilihan PTN kedua? Biasanya jawaban diplomatis mereka bukannya tidak mau. Masalahnya daya tampung yang tersedia sudah penuh terisi oleh siswa pendaftar yang memilih UI, ITB,UPI,UNPAD, UGM, dan UNAIR pada PTN pilihan pertama.

Jadi tips bagi adik-adik yang akan mengikuti SNMPTN 2015, tidak perlu terburu-buru mendaftar. Cari terlebih dahulu informasi mengenai peringkat kamu di sekolah dan pilihan prodi/jurusan teman-teman di sekolah kamu yang mempucnyai nilai rapor dan peringkat yang lebih baik, hindari pilihan yang sama dengan mereka. Cari juga info berapa daya tampung prodi/jurusan di tiap PTN, berapa peminat tahun lalu, sehingga kamu dapat mengetahui tingkat keketatannya. Jika memungkinkan, cari juga berapa banyak kakak kelas kamu yang diterima melalui SNMPTN 2014. Cari infonya sampai detail, berapa yang diterima di Prodi/jurusan yang kamu minati di tiap-tiap PTN. Makin banyak alumni sekolah kamu yang diterima tahun lalu, makin besar peluang kamu untuk diterima juga. Kemudian, meskipun kamu punya kesempatan memilih 2 PTN, maksimalkan pilihan di PTN pertama.

Timbang semuanya dengan baik dan bijak. Ingat bahwa setiap siswa berhak mendaftar, namun hanya siswa terbaik yang akan diterima! Semoga bermanfaat.

Perampok Berdasi dan Eksekusi Mati

Saturday, January 17, 2015

Fenomena eksekusi mati jadi berita utama di hampir seluruh siaran berita tanah air di bulan Januari ini setelah digemparkan berita hilangnya pesawat AirAsia QZ8501. 6 orang tersangka yang membawa sejumlah narkoba, 5 diantaranya adalah WNA. Hidup mereka tinggal beberapa jam lagi. Jika saja mereka tidak pernah menyentuh barang haram tersebut mungkin mereka dapat hidup jauh lebih lama. Sayang, mereka terlalu nekat. Nekat membawa amunisi pembunuh masa depan generasi muda. Narkoba adalah salah satu faktor penghancur masa depan generasi muda suatu bangsa. Bayangkan saja jika satu bandar memiliki 5 anak buah (pengedar). 1 pengedar punya 10 pelanggan tetap, jadi 1 bandar punya  50 pelanggan. Artinya 50 orang sudah menjadi korban dan kehancuran hidupnya pun akan dimulai. Bukan hanya itu, dari 50 orang itu jika mereka mengajak masing-masing 2 orang untuk memakai narkoba maka jumlahnya akan menjadi 150 orang. Dan demikian seterusnya.
Semakin lama akan semakin menjamur, merambah ke setiap insan muda yang selalu ingin mencoba hal-hal baru.  Maka bukanlah hal yang salah jika para bandar dieksekusi mati.
Bukan hanya bagi para bandar narkoba, eksekusi mati juga berlaku bagi para teroris yang sudah jelas-jelas membahayakan hajat hidup orang banyak. Pengebom tragedi Bom Bali II misalnya, wajar jika ia dieksekusi mati. Dan juga para teroris lain juga layak dieksekusi mati, walaupun hal ini menimbulkan banyak kontra. Para oposisi mempermasalahkan masalah kemanusiaan, HAM, dan juga konstitusi yanh menjamin hak hidup warga negara. Coba lihat kembali apa yang mereka lakukan. Itu melanggar HAM dan sangat tidak manusiawi.
Lalu bagaimana dengan perampok berdasi? Haruskah mereka juga dihukum mati seperti bandar narkoba dan para teroris?
Menggondol uang ratusan, milyaran, bahkan trilyunan rupiah, bukankah itu juga tindakan yang merugikan banyak pihak? Apalagi jika uang itu seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat seperti untuk pembangunan fasilitas kesehatan umum, pendidikan, infrastruktur, dan apalagi jika seharusnya digunakan untuk dana bantuan rakyat miskin. Betapa jahatnya dan serakahnya mereka. Haruskah tikus-tikus ini dieksekusi mati?
Jangankan eksekusi mati, dipenjara pun masih diberi fasilitas ekslusif. Dipenjara pun masih berani main belakang. Gonjang ganjing politik, saling suap menyuap sampai ke lembaga hukum tertinggi. Lalu, pada siapa kami harus percaya? Jika penegak hukumnya pun tidak bisa menegakkan diri sendiri. Malangnya ibu pertiwi.

SELEKSI NASIONAL BEASTUDI ETOS 2015

Tuesday, January 06, 2015

Tolong bantu share buat anak pintar yg gak mampu kuliah

SELEKSI NASIONAL BEASTUDI ETOS 2015

Untuk seluruh siswa/i SMA/Sederajat se-Indonesia

Beastudi Etos ada di 16 PTN.
UNSIYAH, USU, UNIV ANDALAS, UIN Jkt, UI, IPB, ITB, UNPAD, UNDIP, UNAIR, ITS, UNIBRAW, UGM, UNMUL, UNHAS, dan UNPATI

Fasilitas Beasiswa :
1. Bantuan biaya pendidikan selama 8 semester
2. Uang Saku
3. Asrama Mahasiswa selama 3 tahun
4. Pembinaan selama 4 tahun (tahun ke 4 pembinaan persiapan pasca Kampus)
5. Support prestasi dalam dan luar negeri
6. Bantuan biaya penelitian skripsi
7. Pembuatan pasport

Persyaratan :
1. Surat Keterangan Tidak Mampu
2. Slip Gaji/ Surat Keterangan Penghasilan Orangtua dari Wali Nagari/ Ketua RT/RW / Ketua Pengurus Mesjid setempat dengan Cap Stempel
3. Fotocopy Rapor Semester 1-5 atau Ijazah bagi yang sudah lulus SMA/sederajat
4. KTP/ Kartu Identitas
5. Fotocopy Kartu Keluarga
6. Pas Photo terbaru warna 3x4 2 buah
7. Fotocopy Rekening Listrik bulan terakhir
8. Foto Rumah Tampak Keseluruhan (Ruang tamu, ruang tidur, dapur, kamar mandi, halaman depan dan belakang)
9. Mengisi Formulir Pendaftaran, download di www.beastudiindonesia.net / ambil ke Sekretariat Beastudi Etos terdekat
10. Tulisan tentang perjalanan hidup (minimal 2 halaman A4)

Pendaftaran juga bisa secara online melalui website
www.bit.ly/SELEKSI-ETOS

Pendaftaran mulai 1 Januari - 28 Februari 2015

Asrama beastudi etos Medan. Jakarta. Malang. Semarang. Jogja. Surabaya. Samarinda. Makassar. Ambon. Padang. Aceh. Bandung. Bogor.

Siapa tau ada saudara/teman/tetangga Anda yang membutuhkan.

Kehadiranmu

Friday, January 02, 2015

Berjuta asa kutebar diluasnya jagad raya, setinggi bintang, seindah pelangi.
Menantikan datangnya arjuna. Entah siapa.
Bagaikan benang kusut, hatiku ketika itu.
Tak perduli dunia, hanya fokus pada satu asa yang tiada akhir. Asa yang seharusnya tak pernah ada.
Datang begitu sederhana, menawarkan cinta apa adanya namun luar biasa.
Mencairkan bongkahan hatiku yang beku.
Membuatku merasakan kenyamanan dalam potret lugumu.
Dalam keheningan aku selalu berdoa kelak aku menemukan sebuah kedamaian dan kenyamanan dari seorang adam.
Kaummu terkadang banyak menyakiti, merayu dengan sejuta kata-kata manis, sarat akan janji dan romantisme.
Tapi kamu tidak.
Tampil apa adanya, sangat apa adanya.
Berbeda denganku yang ingin selalu terlihat sempurna.
Tidak ada romantisme yang selalu aku idamkan, tapi ada cinta yang jauh lebih besar dan sangat berarti yang kurasakan.
Ada hati yang perlahan bergejolak, meruntuhkan khayalanku dan membangun mimpi-mimpi yang akan kita wujudkan bersama.
Kehadiran yang awalnya tak diharapkan, namun aku pertahankan.
Kehadiran yang tiba-tiba, bukan karena rasa iba, tapi karena Tuhan berkata 'waktunya telah tiba'.
Tak ada yang tahu hingga kapan, dan kemana semua ini akan berakhir.
Terima kasih untuk segala perhatian, kasih sayang, pengorbanan, kesetiaan, kesederhanaan, dan terlebih pelajaran hidup yang sama-sama kita dapatkan selama ini.
Bukan wajahmu yang membuatku jatuh hati, bukan isi dompet atau kendaraan apa yang kamu pakai, tapi apa yang kamu lakukan dan ketulusanmu selama ini yang membuatku bertahan dan ingin terus seperti ini hingga kita bertemu dihadapan altar suci nanti. Semoga Tuhan merestui.

Mawar Putih pun Berduri Tajam

Friday, November 14, 2014

Udara dingin mengusap lembut tubuhku yang tengah terbaring di sofa ruang keluarga. Aku sedikit terusik kemudian meringkuk memeluk lututku, berusaha menghangatkan diri. Namun, suara gemericik hujan bersautan dengan suara petir sedikit banyak mengganggu hibernasiku. Memuaskan diri dengan tidur seharian setelah satu minggu begadang demi tugas-tugas yang rasanya tidak pernah berkurang, atau malah terasa semakin bertambah.
Aku mengulet, melihat jam dinding. Jam 3 sore. 12 jam aku tertidur, pantas saja aku merasa sangat lapar hingga perutku terasa perih. Aku bangun, duduk menghadap kearah jendela. Aku menguap sambil melihat tetesan air yang turun dari si hitam cumulonimbus di atas langit sana. Melihat ke sekeliling halaman depan rumah. Berjejer bunga mawar tersiram air hujan. Aku pandangi satu per satu mawar itu, walaupun sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan halaman depan rumah yang dirawat sangat apik oleh ibuku.
Tiba-tiba ada satu pemandangan yang tertangkap kedua mataku, dan langsung masuk kedalam otakku, lalu seketika terjun bebas kedalam hatiku. Mawar putih. Satu-satunya diantara deretan mawar merah dan pink, tertanam begitu indah dengan kelopak putih jernihnya. Aku bukan pujangga yang bisa menuliskan kata-kata romantis, tapi mungkin itulah Anna. Ditengah deretan mantan-mantanku, dialah yang paling berbeda. Hatiku mulai bereaksi, memori otakku kembali membuka album usang tempat aku menyimpan segala kenanganku dengannya.
Senyumnya, tawanya, tingkah lucunya, marahnya, delik matanya aku masih sangat megingatnya. Bahkan wangi khas tubuhnya pun masih lekat dalam ingatanku. Aku ingat bagaimana ia begitu marah ketika aku selingkuh. Saat itu aku baru menyadari betapa bodohnya diriku. Mungkin tangisannya adalah klimaks sakit hatinya. Ia tidak banyak bicara, diam membungkam lalu pergi. Ingin aku kembali pada saat-saat itu, mencoba meredam tangisnya dan mencegahnya pergi. Namun, rasanya tidak pantas lagi aku menghampirinya. Walau kini ia sudah memaafkanku, aku tahu di dalam hatinya luka itu masih menganga.
Aku rindu.
Jika aku seperti Nobita yang memiliki Doraemon, mungkin saja aku bisa memintanya mengeluarkan mesin waktunya. Kembali ke 2 tahun lalu. Aku ingin memperbaikinya, atau malah 3 tahun lalu memulai semuanya dari awal seperti serial Proposal Daisakusen. Jika aku diberi kesempatan itu aku akan menyayangi Anna sepenuh hati dan tidak akan membuat air matanya menetes setitikpun. Bahkan aku rela menjadi badut yang senantiasa mengukirkan senyum di wajah putihnya. Memulai dengan indah, terus berputar seperti bumi yang tak berujung.
Salahkah?
Terlambat. Hanya itu alasnnya. Aku terlambat untuk memperbaiki semuanya,
Tiba-tiba dadaku terasa nyeri, sesak, pelupuk mataku terasa panas. Mataku berkaca-kaca. Terlalu sakit untuk mengingat peristiwa ini. Kanker pun rasanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan harus kehilangan orang yang paing disayangi. Dan kepergiannya adalah karena ulahku.
Sore itu ketika kami bertengkar hebat, diluar sedang hujan deras. Petir menyambar-nyambar mengiringi pertengkaran kami. Wajahnya memerah, sorot matanya begitu tajam diiringi derai air mata yang terus keluar dari mata cokelatnya. Aku menunduk, sesekali aku mencoba berargumen, namun aku memang salah. Aku mengaku salah. Aku memang bodoh. 1 tahun kebersamaanku dengannya sering kali diwarnai permainanku. Perselingkuhan yang terus menerus aku lakukan dengan beberapa gadis lainnya membuat Anna merasakan sakit hati yang amat dalam. Ia tahu, namun ia hanya diam, dan bersabar. Seperti thermometer yang dipanaskan, 2 tahun lalu adalah klimaks semua kekecewaannya.
Ia membaca semua chat mesra bbm ku dengan seorang gadis yang sangat asing baginya. Setelah ia meluapkan emosinya, ia memaksakan diri menerobos hujan lebat. Aku tak bisa menahanya. Aku membiarkannya pergi karena kupikir ia butuh waktu untuk menenangkan diri, setelah ia tenang baru aku akan berbicara baik-baik kepadannya, mengakui semuanya dan meminta maaf. Saat itu aku hanya membutuhkan maafnya, jika ia tetap tidak ingin meneruskan hubungan ini aku bisa menerimanya. Karena kala itu aku pikir aku bisa mendapatkan gadis lain yang lebih baik dan lebih cantik darinya. Nyatanya hipotesaku salah besar. Aku masih saja merindukannya.
Tidak sampai setengah jam Anna pergi, ia meneleponku.
“Hallo benar ini dengan mas Aldo?”
“i-i-iyaaa” aku kaget ketika bukan Anna yang bicara dibalik telepon.
“Mas Aldo, kami dari pihak RS.Mitra Keluarga Depok ingin memberitahukan bahwa teman anda, saudari Anna sedang kritis dan harus dilakukan tindakan dengan segera. Kami membutuhkan kehadiran Anda, karena beberapa kali kami tidak bisa menghubungi keluarganya….”
“baik! Saya segera kesana”
Tanpa pikir panjang lagi aku mengambil kunci motor dan segera melesat ke rumah sakit. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Anna. Jantung ini rasanya berhenti berdetak ketika mendengar kabar itu. Aku memacu kuda besiku, menerobos hujan yang tak kunjung berhenti. Aku takut petir, namun aku lebih takut kehilangannya.
Aku sampai di rumah sakit. Anna masih di UGD, tubuhnya bersimbah darah. Kepalanya terus menerus mengeluarkan darah. Aku merasakan seluruh tubuhku melemah, aku tidak bisa membiarkannya seperti ini. Aku tidak ingin kehilangannya. Seorang suster menyodorkanku sebuah dokumen persetujuan tindakan operasi. Tanpa pikir panjang aku menandatanganinya.
Tak lama Anna langsung dibawa ke ruang operasi. Nafasku tidak teratur, kepalaku terasa sakit seperti dihantam bola beton. Aku duduk di depan ruang operasi. Aku masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan Anna seperti itu? Bisakah Anna diselamatkan? Tuhan tolong aku.
“Kamu teman gadis tadi, nak?” tiba-tiba suara seorang lelaki mengagetkanku.
Aku hanya mengangguk pelan. Kepalaku terus menunduk, aku menyembunyikan mataku yang sudah sejak tadi dibasahi air mata.
“Tadi dia tertabrak mobil waktu mau nyebrang, nak. Mobilnya kabur gak mau tanggung jawab. Semoga bisa diselamatkan ya, nak. Saya pamit dulu.” Katanya
Sesak dada ini mendengar cerita itu. Anna, sorry. All caused by me. I’m foolish!!!!
Pria itu bergerak menjauhiku, berjalan memunggungiku.
“Terima kasih, Pak.” Kataku lirih
Ia menoleh dan tersenyum. Aku berusaha membalas senyumnya sebisa mungkin.
Tak lama keluarga Anna datang bersamaan dengan keluarnya dokter dari ruang operasi. Kami semua menanti kabar tentang kondisi Anna. Mama Anna tak henti-hentinya menangis.
“Anna kehabisan banyak darah, kami membutuhkan darah lagi karena stok darah AB sangat sedikit. Siapa diantara kalian yang golongan darahnya AB?” kata dokter.
Aku tidak pernah mendonorkan darah, dengan alasan takut dengan jarumnya yang sangat besar itu. Namun kali ini yang membutuhkan adalah orang yang sangat aku cintai. Setelah melewati pemeriksaan kesehatan aku mulai mendonorkan darahku. Besar harapanku saat itu Anna bisa tertolong.
Beberapa jam setelah aku mendonorkan darah, dokter kembali keluar ruangan dan memberitahukan bahwa Anna masih koma dan ia tidak bisa memprediksikan kapan Anna akan siuman.
Aku dan keluarganya sangat terpukul saat itu.
Tidak sampai satu minggu Anna di rumah sakit, keluarganya membawa Anna ke rumah sakit di Jerman untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. Saat itu aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya.
Setelah enam bulan perawatan Anna sembuh. Betapa senangnya ketika mamanya memberitahukan kabar itu. Ingin segera aku menyusulnya kesana, sebelum satu e-mail ini sampai:
Hai, apa kabar?
Aku sudah sembuh dan sehat kembali disini. Do, aku sudah memaafkan kamu. Semoga kamu bisa menjadi pria yang bertanggungjawab atas komitmen yang kamu bangun. Aku sudah bilang sama mama papa untuk tinggal disini saja. Rasanya terlalu sakit untuk pulang ke Indonesia. Aku sedang dekat dengan seorang dokter yang menanganiku disini. Terima kasih untuk pelajaran berharga ini. Aku harap kamu mengerti.
Belakangan aku mendengar dari teman-temannya bahwa ia telah menikah dengan dokter itu, dan juga terkadang aku masih sering mengikuti aktifitasnya lewat sosial media.
Anna tidak salah, itu jalan hidupnya. Dan jika aku dulu tidak begitu, mungkin jadinya tidak seperti ini. Sesal memang selalu datang di akhir. Namun, ada setitik rasa bahagia ketika mengingat bahwa didalam tubuhnya mengalir darahku juga.
Aku yang membuatnya celaka, tapi sedikitnya aku menyelamatkan nyawanya, walaupun luka hatinyanya tak bisa aku sembuhkan.

Mawar putih, itulah kamu, Anna. Polos, elegan, sederhana namun cantik, dan sangat besar hati.Aku benar-benar mengaguminya.
Aku menutup album usang itu. Bangkit berdiri, mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya. Menghisapnya dalam-dalam, mengeluarkan asapnya pelan-pelan, seperti rasa sakit dan kerinduan ini, aku ingin melepaskannya perlahan-lahan bersama kepulan asap tembakau ini.
***


Aku Bukan Gitarmu

Tuesday, November 04, 2014

Tanganmu melingkar memeluk gitar cokelat tua itu
Jari-jari itu menyentuh senar-senar yang kian berkarat
Kau petik lihai satu demi satu dawai gitarmu
Nada-nada  mengalun indah dari kotak resonansi itu
Suara merdumu menyatu menjadi sebuah harmoni indah di telingaku
Kau tampak manis ketika itu
Sayang aku hanya bisa memandangimu dari kejauhan
Sejujurnya aku ingin ada disana, disampingmu
ditepi danau nan tenang, bermandikan cahaya mentari sore yang hangat
Namun aku takut, aku takut aku terjatuh lagi

Aku masih mengagumimu, senyummu, tawamu, dan semua tingkah lucumu
Aku masih merindukan hangatnya pelukmu, tatapan matamu, dan
aku....
aku masih mencintaimu seperti dulu
Aku masih sama seperti yang dulu
Namun aku bukanlah gitarmu
Aku bukan gitar yang bisa kau mainkan sesuka hati
lalu kau campakkan ketika kau sudah puas
Kau selalu datang dan pergi sesuka hatimu
Aku kesal kau begitu
aku ingin kau berubah
tapi apa daya, aku memang lemah
aku tak kuasa untuk menolakmu
aku selalu membukakan pintu saat kau datang
saat kau pergi, aku hanya bisa memandangimu dari jauh

Kau adalah nama yang selalu kusebut dalam doaku
Ku memohon pada-Nya agar kau selalu sehat dan bahagia
walau tak bersamaku
Selebihnya aku ingin kau sadar
akan kehadiranku disampingmu
Aku bukan gitarmu
Aku ingin menjadi orang yang selalu ada disampingmu
saat kau berlagu sedih maupun bahagia


Long Distance Relationship, Bukan Pemisah Aku dan Dirinya

Sunday, November 02, 2014

Seperti dalam dongeng, setiap gadis memiliki impian bertemu dengan seorang pangeran tampan atau ksatria tangguh dalam hidupnya. Diawali dengan pertemuan dramatis, diselingi konflik nan ironis, kemudian diakhiri akhir yang romantis. Sangat klasik. Namun aku pun pernah bermimpi seperti itu. Memiliki pasangan hidup setampan Ken atau dalam dunia nyata seperti Bradley Cooper, seseksi Adam Levine, atau sekeren Taylor Lutner. Bukan hal yang salah selagi mimpi itu dibarengi usaha dan selalu sadar akan realita yang ada.
Mencari yang sempurna, sempurna, dan sempurna. Habislah waktu kita. Nobody perfect, but let's look for someone out there who offer her/his simplicity to complete you. It's perfect life, guys.
Sekitar satu tahun lalu aku bertemu seorang pria (4 years older). Sebenarnya jauh sebelumnya kami sudah saling berkomunikasi lewat jejaring sosial, facebook. Kejadian itu terulang lagi, singkat cerita kami bertukar no HP, dan saling berkirim pesan. Awalnya biasa saja, sama seperti teman-teman lainnya. Ternyata kami punya satu kesamaan, yaitu sama-sama penggemar salah satu klub sepakbola raksasa Spanyol, Barcelona. Modus selanjutnya adalah ia mengirim jersey klub kesayanganku ke rumah dengan nama (-DIANA- if you remember) yang salah (untung aja bukan alamat palsu wkwkwk). Sebelumnya aku tidak pernah tau dia rupanya seperti apa, kesalnya dia tau aku. Hingga suatu hari seorang teman mengetahui kedekatan kami, dan menyuruhnya datang ke tempatku berada saat itu. 
Canggung. Itulah perasaan pertama ketika sosok pria seksi ini muncul dihadapanku (cieee disebut seksi :p). Kemudian kami pun terbawa dalam obrolan-obrolan ringan ditengah kedua temanku yang lainnya (ceritanya double date). Dia mengantarku pulang. Dan sejak saat itulah dia melancarkan manuver-manuvernya untuk menembus pertahananku. Bukan pertahanan, tapi kesia-siaan yang dipertahankan.
Setelah proses yang cukup panjang akhrinya, 2 Novermber 2013 kami meresmikan hubungan kami.
Satu bulan pertama, percakapan mesra nan manja mengawali minggu-minggu pertama kami pacaran. 
Bulan kedua, untuk pertama kalinya aku diperkenalkan pada keluarga besarnya. dan itu gugupnya bukan main. Ada rasa takut tidak disukai, atau parahnya tidak direstui, tapi syukurlah kami bisa sampai sekarang karena restu keluarga pula.
Saat aku ulang tahun tanpa diduga-duga ia datang tengah malam kerumahku bersama teman-teman kami. Ketika aku baru saja ingin tidur, tiba-tiba mereka muncul dari dapur sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Senengnya pake banget apalagi dekorasi kuenya Barcelona. (so sweet and once again thank you for you all)
Akhir tahun 2013, kami habiskan semalam suntuk dirumahku. Menikmati detik-detik pergantian tahun bersama keluargaku. Itu pertama kalinya aku membawa pria ke rumah saat malam tahun baru. 
Bulan ketiga, mulai ada pertengkaran-pertengkaran kecil. Ia pindah ke Bandung untuk mencari pekerjaan. Hal itu menjadi awal kami menjadi pejuang jarak dan waktu. Tapi dua minggu sekali dia masih pulang ke Kuningan. 
Bulan keempat, aku pergi ke Bandung. Tujuannya 2 in 1. Ada acara dengan komunitasku dan sekaligus bertemu dengannya. Rasanya lega ketika bertemu lagi dengan dia. Senangnya bukan main, ketika melihat sosoknya ada disampingku.
Bulan kelima, aku mulai sibuk mempersiapkan ujian nasional. Dia sangat pengertian, walau kadang terselip pertengkaran karena hal-hal kecil tapi itulah penyedapnya.
Bulan keenam, ulang tahunnya bertepatan dengan peringatan hari jadi kami. Awalnya aku mau mengirimkan kue kering buatanku ke Bandung, tapi secara mendadak ia pulang ke Kuningan. Hampir ketahuan tapi untungnya masih berhasil. Surprise party sederhana, sekaligus membangunkan kebo bangun dari tidurnya hahaha. 
Bulan ketujuh, ia kembali ke Bandung.Aku lulus, Ia mulai bekerja, waktu kami untuk berkomunikasi semakin terkikis. Tapi SMS dan telepon masih jadi andalan.
Bulan kedelapan, satu bulan kami tidak bertemu namun akhirnya bertemu dengan hitungan 8 jam saja. Saat-saat terakhir aku menangis dipelukannya. Saat itu aku merasa tidak ingin pergi lagi. Ingin rasanya tinggal terus disampingnya. Namun, itu tidak memungkinkan. Aku kuliah di tempat yang jauh dengannya. Resiko long distance relationship yang sebenarnya pun harus kami terima dengan ikhlas. 
Bulan-bulan seterusnya hingga bulan yang keduabelas hanya tersisa SMS dan telepon. 
Perbedaan-perbedaan prinsip mulai muncul, namun kembali pada bagaimana kami membangun cerita hidup ini. Banyak orang meremehkan LDR, seolah tak punya harapan. Bau-bau perselingkuhan memang selalu mendekati mereka yang menjalin hubungan jarak jauh. Banyak kesempatan, tapi ingatlah bagaimana susahnya kita membangun dan mempertahankan hubungan yang sudah ada. 
Aku dan dia tidak sama. Sedikit banyak perbedaan itu menjadi akar munculnya pertengkaran.
Dia bukan orang tertampan, terpintar, teromantis, terkaya, dan ter ter selanjutnya. Tapi dia adalah orang yang hebat yang bisa meluluhkan hatiku. Orang yang bisa membuat aku bangkit. Orang yang membuatkanku cermin untuk selalu aku berkaca pada diri sendiri. Orang yang bisa meyakinkan hatiku. Dia tidak selalu mengerti aku, karena dia tau saat dimana aku harus mengerti dirinya.
Aku memulainya dengan rasa nyaman, bukan dengan jatuh cinta. Karena jatuh cinta tidak menjamin aku dapat merasakan kenyamanan ini.
Aku meneruskan ini bukan karena keinginan, tapi karena aku membutuhkannya dan karena aku telah berani memulainya.
Jarak dan waktu bukanlah penghalang ketika kita berani memulai. Komunikasi, kepercayaan, dan saling mengerti adalah kuncinya. Tapi yang utama dari semuanya adalah sejauh mana niat kita untuk mempertahankan apa yang telah kita mulai. Karena mengakhiri itu jauh lebih mudah daripada kita memulai sesuatu yang baru.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS